Sinopsis Novel Terjemahan Frankenstein karya Mary Shelley

Sinopsis Novel Terjemahan Frankenstein karya Mary Shelley

Frankenstein terlahir di keluarga yang bahagia dan sangat berada di Geneva, Swiss. Ia tumbuh besar dengan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan dan sedikit terobsesi pada ilmu pengetahuan kuno tentang bagaimana caranya manusia bisa menciptakan kehidupan.

Ketika beranjak dewasa Frankenstein menuntut ilmu di kota London, Inggris. Disana keingintahuannya tentang pengetahuan kuno tersebut terpuaskan sampai di suatu titik ia merasa bahwa dengan hanya membaca saja tidak akan cukup. Ia harus melalukan percobaan.

Maka kegiatan gila itu pun di mulai. Frankenstein mengumpulkan organ2 tubuh dari mayat2 dan menambal sulamnya menjadi mahluk (yang ia pikir) cukup mirip manusia. Pada akhirnya ia berhasilkan menghidupkan mahluk tersebut (dengan tidak diperinci bagaimana caranya, pintar memang Jeng Mary Shelley ini).

Ketika akhirnya mahluk itu bangkit. Frankenstein tercekam oleh ketakutannya sendiri dan lari meninggalkan mahluk tersebut di tempat tinggalnya. Ketika ia kembali, mahluk itu telah hilang dari tempat tinggalnya. Frankenstein pun menenangkan dirinya dengan berpura-pura bahwa peristiwa tersebut tidak pernah terjadi (timpuk Frankenstein pake pompa). Namun akhirnya ia jatuh sakit berkepanjangan. Di saat itu sahabat masa kecilnya Henry datang dan menemani Frankenstein menuju ke kesembuhan.

Setelah sembuh dari sakit Frankenstein menerima kabar duka bahwa adik lelakinya William telah meninggal karena dibunuh. Ia dan Henry lalu kembali ke Geneva. Frankenstein memendam kecurigaan dalam dirinya. Kecurigaan itu semakin menjadi ketika ia melihat luka cekikan hitam di leher adiknya dan dibulatkan ketika pada suatu hari ia melihat daemon nya. Mahluk yang ia ciptakan telah membunuh adiknya.

Dihantui oleh rasa bersalah Victor Frankenstein menjadi murung dan penyendiri. Ketika ia sedang melamun di suatu puncak perbukitan, mahluk itu mendatanginya. Reaksi pertama Frankenstein adalah histeris dan berusaha menyerang mahluk tersebut. Menyadari bahwa mahluk yang ia ciptakan memiliki kekuatan dan kecepatan melebihi manusia biasa, maka ia pun berhenti melawan.

Ternyata sang daemon menuntut sesuatu dari penciptanya. Namun sebelum menyebutkan tuntutannya, ia pun berkisah dari saat dirinya hidup hingga ia bisa sampai di Geneva.

Pada awal kehidupannya sang daemon adalah mahluk yang sangat mengagumi kehidupan. Cahaya matahari, kicauan burung, wanginya udara pagi dan keajaiban alam lainnya. Ia pergi dari tempat tinggal Frankesntein dan kemudian berkelana ke alam bebas. Pertemuannya dengan manusia selalu menimbulkan ketakutan dan histeria dari manusia yang ia temui dan penyerangan terhadap dirinya. Padahal di saat itu sang daemon tidak memiliki niat jahat sekalipun.

Saat kabur ke wilayah hutan ia menemukan sebuah pondok kecil yang dihuni oleh tiga orang manusia, seorang kakek yang buta dan sepasang cucu laki2 dan perempuan yang senantiasa merawatnya. Ia mengamati keluarga kecil itu dari jauh selama berbulan2. Dari keluarga itulah ia belajar mendefinisikan perasaan. Kasih sayang, kebaikan, kesedihan, kemarahan.

Ia mencoba membantu keluarga tersebut secara diam2 dengan mencarikan persediaan kayu bakar untuk mereka. Perlahan sang daemon mencoba mengartikulasikan bahasanya, dan melalui suatu proses akhirnya dia secara otodidak belajar untuk membaca. Suatu hari salah seorang diantara keluarga kecil tersebut meninggalkan tiga buah buku di luar. Sang daemon merasa itu ditujukan untuknya dan melalui buku2 tersebut ia belajar tentang peradaban manusia.

Singkat kata, ia jatuh hati pada keluarga kecil tersebut dan ingin berteman dengan mereka. Ya, mahluk itu hanya mendambakan memiliki teman. Rencana telah ia susun baik2 tentang bagaimana caranya ia memperkenalkan diri kepada keluarga tersebut. Ia telah melihat bayangannya sendiri di air ketika bulan purnama dan membenci penciptanya karena telah membuat ia begitu mengerikan dan buruk rupa.

Apa boleh dikata, rencana yang telah ia susun baik2 pun berantakan. Keluarga tersebut berbalik histeris dan menyerangnya. Sang daemon merasa marah dan terluka. Terkikis habislah kepercayaannya pada kebaikan manusia. Baginya, manusia hanya mahluk yang penuh dengan prasangka karena menilainya hanya dari penampilannya saja. Ia pun murka kepada Frankenstein. Dari jubah yang ia ambil dari tempat tinggal Frankenstein ia memperoleh jurnal penciptaannya. Ia ingat betapa Frankenstein memandangnya dengan mata jijik bercampur takut ketika ia pertama kali hidup. Ia pun berniat untuk mencari Frankenstein dan menuntut keadilan.

Keadilan yang ia tuntut adalah agar Frankenstein menciptakan mahluk lain untuk menjadi temannya. Jika Frankenstein bersedia maka ia tidak akan menampakkan dirinya di depan manusia lagi. Jika tidak ia akan membunuh keluarga Frankenstein satu demi satu dan tidak akan berhenti menyebabkan penderitaan di hidup Frankenstein.

Judul: Frankenstein

Penulis: Mary Shelley

Alih Bahasa: Anton Adi Wiyoto

Penerbit Terjemahan: Gramedia Pustaka Utama

Seberapa suka anda dengan artikel ini?
Sending
User Review
0 (0 votes)
Silahkan like & bagikan ke media sosial kesayangan anda

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Beritahu saya
Navigate