>> Survey Berhadiah <<Download & Install Disini

Separuh Senja Di Atas Kubah oleh Ayi Sayidah – Cerpen

Separuh Senja Di Atas Kubah

 

Jam menunjukkan pukul  “02:00” dini hari, matanya belum juga terlelap masih terjaga dengan beberapa buku dan kitab. Kecintaan nya pada ilmu semakin hari semakin bertambah. Melebihi segala sesuatu, sehingga ia tak berani berkomitmen dengan wanita manapun.

“Abi, sampai kapan kamu akan seperti ini? Semakin hari kamu semakin lupa diri” kata ibu yang baru duduk disampingnya.

“Ibu, sebenarnya Abi masih berniat untuk melanjutkan kuliah di Mesir. Abi ingin lebih memperdalam ilmu agama. Abi rasa 8 tahun mondok belum cukup Bu” keinginan nya, membuat ibu terdiam lesu.

“Ibu mengerti keinginan kamu nak, tapi ibu tak pernah sanggup untuk kamu tinggalkan. Ibu sudah lanjut usia, siapa yang mengurus ibu? Sejak ayah meninggal, ibu sangat kesepian. Mohon pertimbangkan kembali! ”

Tak sepatah kata pun yang Abi ucapkan, hanya tatapan mata yang berusaha memahami harapan ibunya. Abi bergegas menuju kamar mandi, setengah perjalanan ia mendengar samar tausiyah kiyai Munfasir, Abi pun berbalik badan.

Abi teringat kiyai ahli tasawuf ini selalu membuat dirinya penasaran untuk memperdalam ilmu. Terlebih ia menyukai kedzuhudan dari diri beliau.

” Dalam kehidupan kita harus jujur. Jangan berani membohongi hati. Jangan membeli sesuatu yang tidak perlu, seperlunya saja. Jangan membebani diri karena melihat orang lain. Nanti tumbuh penyakit iri. Apabila sudah iri, baru lah terasa. Kalau kita hanya mampu membeli motor seharga Rp. 15 juta maka jangan membeli yang berharga Rp. 30 juta. Jangan membuat agenda menghutang dalam hidup kita”

Abi pun tertegun mendengar tausiyah kiyai karismatik itu. Membuat Abi teringat kembali harapan ibunya. Tausiyah pun selesai, Abi  bergegas ke kamar mandi. Air mengalir pada tubuh putihnya menyejukkan melebihi kesejukan air pegunungan. Tak pernah terlewatkan, Abi selalu menyempatkan waktunya untuk bermunajat kepada kekasihnya walaupun hanya 5 menit.

” Aku memulai senja pagi ini dengan bersyukur kepadaMu. Melebihi syukurnya pepohonan yang mendayu kan daun-daun nya, melebihi angin yang berhembus ke Timur dan ke Barat. Melebihi kicauan burung yang berirama. Aku bertawakal kepada Mu, Tuhan yang tak ada dan tak akan pernah ada bandinganNya. Melebihi segala kekuatan yang ada didunia ini. Aku merendah kepadaMu. Tunjukkan kebaikan kepadaku, tak ada kekuatan yang pernah ku rasa, hanya kekuatan cinta kasihMu ya Robb. Jikalau harapanku tak Engkau kehendaki, tuntun langkahku pada jalan yang Engkau ridhoi.

“Laa taiasu mirrouhillahi walaa yaiasu mirrouhillahi innahu qoumul kaafirun”

Aku bertawakal kepada Mu”

Ibu yang sedari tadi mendengar kan do’a putranya, menyeka air matanya.

“Amin Insyaalloh.. Alloh akan memberi Mu jalan Abi.” Ibupun tersenyum simpul.

Kesehariannya tak lepas dari membaca dan muroja’ah kitab-kitab yang pernah ia kaji bersama sang guru sewaktu dipondok. “Irsyadul Ibad” kitab yang sedang dalam genggaman nya. Abi pun tersenyum tatkala membaca ” Baabun nikah”. Keterangan dari Abdullah bin Mas’ud, Baihaqi dan Abi Umamah tentang perintah untuk menikah, dalam garis besarnya untuk menjaga pandangan dan kemaluan nya. Dan belum pernah terlintas dalam benak dan pikiran nya tentang itu sebelumnya.

“Abi sedang baca apa nak?” Tanya ibu sambil membawa nasi goreng dan teh hangat ke kamar Abi.

“Abi ingin menikah ibu”  seakan tak sadarkan diri. Abi pun malu dibuat. Ibunya terperanjat dan tertawa mendengar itu.

“Kamu kenapa nak? Tiba-tiba ingin nikah.” Tanya ibu heran dan tak henti tertawa.

“Ibu bawa apa?” Tanya Abi mengalihkan perhatian

“Ibu buat nasi goreng dan teh hangat kesukaan Abi” jelasnya.

Niatnya untuk kuliah diMesir membuat ibu sangat sedih. Abi pun sedang mengurus administrasi dan keperluan lainnya untuk keberangkatan nya ke Mesir.

“Abi, paspor kamu belum juga keluar. Paman sudah berusaha.” Kata paman di via telepon

“Mengapa bisa seperti itu paman? Abi kan harus berangkat besok? “Jelas Abi cemas

“Paman juga tidak tahu. Seminggu lalu paman sudah mengusahakan nya, tapi tak juga keluar”

Ibu sedikit lega dengan kabar itu yang ia dengar di kamar sebelah.

“Mohon yang terbaik untuk anakku ya Alloh”. Gumamnya dalam hati

Mendengar hal itu Abi pun segera menghubungi sahabatnya untuk membantu keberangkatan nya. Namun tak satu orang pun dapat membantu nya. Abi pun hanya mampu berdiam diri dilobi kamar. Lamunannya menguasai pikiran nya .

“Sirna sudah harapanku” gumamnya. Seraut kekecewaan di wajahnya. Sesekali Abi menyalahkan diri nya yang terlalu berharap tinggi. Namun ntah kenapa ia tiba-tiba teringat satu bait nadoman dalam kitab ‘imriti “idzil fata hasba’ti qoodihiirufi’ wakullu mallam ya’taqid lam yantafi’. Hal Kitu kiranya yang membuat Abi termotivasi untuk belajar di Mesir.

Separuh senja di ufuk Barat menelan gemerlap cahaya, yang tersisa hanya gumpalan awan merah. Terdengar kumandang adzan disetiap penjuru bumi, menggetarkan semua isi nya. Terlebih dendangan Al Qur’an dengan suara merdu dari kubah yang tak jauh dari rumah Abi.

“Itu suara ‘Aini ibu?” Tanya Abi memastikan

“Iya, itu ‘Aini. Dia baru pulang dari Malaysia, menyelesaikan beasiswa kuliah nya.” Jelas ibu

Mendengar penjelasan ibu, Abipun teringat kembali persoalan S2 nya ke Mesir. Sesekali Abi melirik handphone nya, berharap kepastian dari paman atau sahabat nya. Setengah jam berlalu, seperti yang ia harap paman nya menghubungi Abi.

“Abi, paspor kamu tak bisa keluar. Keberangkatan kamu diundur. Paling kamu harus menunggu satu tahun untuk kuliah disini. Maafkan paman, paman sudah berusaha untuk kamu, namun ini kenyataan nya. Lebih baik kamu kuliah di Indonesia saja, dilain kesempatan kamu bisa ke sini. ” Jelas paman

Bukan manusia tanpa rasa kecewa. Harapan nya kandas begitu cepat. Langit diatas sana pun seakan merasakan kepedihan Abi. Hitam pekat. Tak ada bintang gemintang yang selalu menemani malamnya. Yang bersaksi atas kesungguhan nya.

Abi pun mulai sadar, daun yang jatuhpun taqdir sang maha sutradara. Apalagi tentang kehidupan nya.

Segera ia menemui ibunya yang sedang melantunkan Kalam illahi bersama kecamata tua nya.

“Ibu.. ” panggil nya sambil tenggelam dalam pangkuan ibu.

“Abi tetap akan kuliah melanjutkan S2. Namun, Abi juga tak ingin ibu kesepian. Abi kuliah di Indonesia saja Bu. Insyaalloh akan mengambil beasiswa yang ditawarkan universitas Indonesia 2 Minggu silam. Jadi, Abi bisa merawat ibu juga tetap tholabul’ilmi.” Penjelasan Abi membuat ibu menangis terharu dengan keikhlasan nya. Dan niat baiknya untuk merawat ibu. Abi masih tenggelam dalam pangkuannya, semakin erat ibu memeluk putra semata wayangnya malam itu.

Bumi menebar keindahan nya. Dengan hamparan keindahan yang memanjakan setiap mata yang memandang. Kibasan sayap burung seakan menebar pesona kepada setiap perindu yang memikul kerinduan. Degupan angin penopang lara setiap kagalauan.

Tak biasanya, mentari yang baru saja naik sepenggal. Memanjakan Abi untuk hanyut dalam mimpi senja setelah sholat subuh. Dan sekilas Abi melihat siaran tv. Betapa terkejutnya. Abi terperanjat dari tempat tidur nya. Betapa tidak, ia melihat pesawat yang ia akan tumpangi hari ini ternyata hilang kendali, karena kabut awan menebal. Kepingan sayapnya hancur dan tenggelam di perairan. Bahkan, tak satupun petugas menemukan penumpang pesawat itu. Abi menangis dengan sejadi-jadinya, betapa ia sangat bersyukur ia masih dalam keadaan selamat. Abi pun merendah dengan serendah-rendahnya kepada Tuhannya. Sang sutradara yang Maha Bijaksana.

“Alloh maha kuasa. Alloh selalu memberikan cara tanpa kita sadari dan kita pahami. Sesekali kitapun kecewa dibuat. Tapi inilah kehendak Alloh, setiap apa yang terjadi tak lepas dari kuasaNya.” Jelas ibu meyakinkan.

Abi pun langsung mencium tangan ibu,  kebahagiaan tengah melandanya. Setiap tetesan air matanya menjadi syukur atas semua kehendak Alloh.

Tepat pukul 08.00 WIB Abi menemui dosen universitas Indonesia. Kebahagiaan berpihak kepada nya. Beasiswa kuliah masih dibuka. Abipun langsung mengambil nya.

Langkahnya menapaki jalan yang dihiasi  bunga-bunga, wangi nya semerbak seakan menyapa nya. Pesona ‘Aini melebihi keindahan bunga. Terlintas dalam pikirannya untuk menyapa bunga desa itu.

” Assalamu’alaikum?” Abi memberanikan diri

“Wa’alaikumussalam. Kang Abi ada disini?” Tanya ‘Aini penasaran

“Iya. Akang mengambil beasiswa disini. Kamu sedang apa disini ‘Aini?”

” Masyaalloh.. ‘Aini juga sebenarnya ingin mengambil beasiswa Pascasarjana disini. Dan Alhamdulillah kebahagiaan berpihak kepada ‘Aini kang.”

Mereka semakin akrab, diskusi menjadi rutinitas baru untuk Abi. Diskusi dalam masalah keilmuan, baik dalam keagamaan maupun dalam tatanan sosial.

Kepiawaian nya dalam keilmuan menghantarkan getaran-getaran baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Satu Minggu cukup baginya mengenal ‘Aini. Keanggunan dan kecerdasan nya meyakinkan Abi untuk segera menemui orang tuanya. Keluarga’Aini menyambut ramah dan menerima nya dengan baik. Abi mengutarakan maksud kedatangan nya untuk mengkhitbah dan segera memperistri ‘Aini. KaruniaNya tak berpaling dari Abi. Ketika persetujuan terucap, pernikahan berlangsung dengan khidmat.

“Istriku, sebenarnya aku mempunyai tiga istri yang sama-sama aku cintai. Dan tak mungkin aku memilih dan meninggalkan satu diantara ketiga istriku. Maafkan aku.”

Pengakuan dan kejujuran nya membuat ‘Aini tak percaya dengan Abi. ‘Aini sangat terkejut. Kebahagiaan nya seketika berubah.

“Bagaimana mungkin engkau melakukan itu suamiku? Kenapa akang tak pernah berbicara? ‘Aini sebenarnya kaget dan malu dengan sikap akang.”

“Dengar lah istriku. Istri pertama ku sangat mempesona aku jatuh cinta kepadanya sejak aku kecil ia selalu menjadi temanku. Selalu menemani keluh kesah ku. Aku tak ingin berlama-lama aku segera memperistri nya. Dan aku terkejut ia memperkenalkan aku dengan sahabat dekatnya. Istriku membujuk ku untuk menikahinya menjadi istri ke dua, akupun menikahi nya demi istriku yang pertama. Seakan dunia ini dalam genggaman ku dan milik aku dan kedua istriku, mengapa? Mereka melayaniku dengan baik dan begitu menghormati ku. Hingga kedua istriku membujukku untuk menikah lagi. Mengenal kan ku kepada wanita Sholihah menurut mereka. Benar saja ketika aku melihat nya, ia sangat mempesona, bidadari dunia, cantik parasnya, cantik akhlak nya, akupun jatuh cinta dan memperistri nya. Ia adalah sebaik-baik perhiasan dunia.  Kamu tahu nama ketiga istriku itu? Istri pertama ku bernama ‘ilmu’ istri keduaku bernama ‘dakwah’ dan istri ketiga ku adalah kamu yang baru saja aku halalkan.”

“Aku berterima kasih kepada kedua istrimu yang telah mempertemukan aku dengan separuh hatiku yang baru saja ku temukan. ”

 

 

Nama : Ayi Sayidah
TTL : Ciamis, 08 Juni 2000
Alamat: Ciamis

Berapakah nilai cerpen ini?
Sending
User Review
0 (0 votes)
Silahkan like & bagikan ke media sosial kesayangan anda

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Beritahu saya