Cerpen Smartphone Baru karya Nanda Insadani

Cerpen Smartphone Baru karya Nanda Insadani

Smartphone Baru

(Nanda Insadani)

Terdengar kabar bahwa Pak Encer membeli ponsel keluaran baru yang iklannya masih hangat-hangatnya di televisi. Warga Desa Pentol sempat heboh karena kabar tersebut. Bukan masalah apa-apa, Pak Encer terkenal suka menghutang. Maaf cakapnya, beli beras untuk makan sekeluarga saja ia tak mampu. Beli sayur, hutang, beli lauk, hutang, beli peralatan rumah, hutang, beli perkakas dan tetek bengek lainnya, juga hutang. Ini malah beredar kabar bahwa ia telah membeli smartphone baru. Tentu saja orang-orang yang merasa dihutanginya langsung geger dan mencak-mencak ingin menggorok batang leher Pak Encer.

“Saya merasa berdosa jika terus menghutang. Makanya saya beli ini smartphone dengan cash. Cuma dua juta sekian gitu loh, pak.” tukasnya.

Pak RT mengangguk. Karena bingung mau ngomong apa lagi, diseruputnya kopi hitam seduhan Bu Encer. Bu Encer yang duduk di sebelah Pak Encer tersenyum manis melihat kopinya diminum Pak RT. Sudah sepuluh kali Pak RT datang ke rumah, baru kali ini ia meminum kopinya.

“Padahal saya mau beli yang harga tiga jutaan, pak. Kamera depannya bagus, mana tahu bisa video call-an sama sepupu saya yang di Beijing.”

Prruufff! Pak RT menyemburkan kopinya. Bu Encer langsung menyebut nama Tuhan. Pak Encer ya hanya bisa melongo saja.

“Terlalu panas ya, pak?” tanya Bu Encer.

“Bu Encer, untuk sebelas kalinya saya mengatakan ini, kalau saya tidak suka kopi manis!”

***

Kental, anak semata wayang Pak Encer, pagi ini ingin meminjam smartphone baru bapaknya. Ibunya yang sedang menjemur pakaian di luar saat hujan, sudah berulang kali melarang anaknya itu untuk tidak sering-sering meminjam smartphone baru bapakmya itu.

“Untuk mengerjakan tugas di kelas, pak.” Jawabnya saat ditanya untuk apa.

“Ah, yang benar saja. Bapak dulu sekolah tak pernah disuruh bawa begituan.”

“Tapi kata Ibu, bapak dulu nggak pernah sekolah.”

Pak Encer melirik tajam istrinya.

“Bukannya kamu sudah punya sendiri? Kamu tuh harus mandiri dan manfaatkan apa yang ada. Dasar manusia tak tahu bersyukur!”

“Loh, kapan Bapak membelinya untuk Kental? Kental minta bagi dua permen yang Bapak hisap saja, Bapak harus marah-marah dulu agar Kental tak meminta. Kayak gitu kok mau disyukurin,”

“Bu! Kok hujan-hujan malah ngotot menjemur pakaian!? Memangnya hujannya mau berhenti kalau Ibu menjemur?” teriak Pak Encer mencoba mengalihkan pembicaraan.

Karena kesal dan takut terlambat, Kental merampas smartphone baru itu dari cengkraman bapaknya. Tentu saja Pak Encer tak tinggal diam. Ia mengejar Kental yang berlari kencang meninggalkan bapaknya. Aksi mereka itu disaksikan banyak warga. Bahkan ada bayi yang geleng-geleng kepala melihat mereka. Karena takut termakan malu, ia mengambil batu dan melemparkannya tepat ke kepala Kental. Seketika Kental ambruk dengan kepala berlumur darah.

***

Keesokan malamnya, rumah Pak Encer penuh dengan laki-laki berpeci. Mereka membacakan doa dan ada yang kelihatan tampak sedih di barisan tersebut. Pak RT yang datang telat, langsung menuju pintu belakang yang banyak diisi dengan ibu-ibu. Mengetahui kehadiran Pak RT, Bu Encer sumringah.

“Apa benar Kental meninggal, bu?” Pak RT cemas dan berkeringat.

“Nggak, pak. Dia sekarang di rumah sakit dalam keadaan koma. Kami ini mengadakan syukuran atas smartphone suami saya yang tidak rusak, bahkan tak lecet sedikitpun saat peristiwa mengenaskan antara Pak Encer dan anak kami Kental kemarin.”

Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, Pak RT pingsan.

***

Pak Tong, Bu Ngap, dan Pak Nyek datang ke rumah Pak Encer pagi-pagi sekali. Mereka bertiga adalah para pemilik grosir di Desa Pentol. Dan juga orang yang menjadi tempat hutang piutang Pak Encer. Tampak wajah masam mereka bertiga saat menggedor-gedor rumah Pak Encer.

“Oi, Encer! Buka atau kau dan keluargamu akan menyesal!” teriak Pak Nyek.

Dengan wajah yang masih kusut, Pak Encer keluar lewat belakang dan langsung menyapa ketiga juragan tersebut.

“Maaf bapak ibu, pintu depan saya terkunci dari luar. Makanya saya lewat belakang. Ada perlu apa ya?’

Mereka bertiga saling melirik dan melihat pintu tersebut memang benar pintunya dikunci dari luar. Dan itupun tanpa gembok.

“Sudahlah, Encer! Tak perlu banyak cerita kau. Mengadakan syukuran, HP baru pun bisa kau beli, yang canggih pulak. Tapi hutang kami kok belum kau bayar?” Pak Tong mengacung-acungkan jarinya ke arah Pak Encer.

Pak Encer berusaha tetap tenang dan menarik nafas secara perlahan.

“Sudahlah. Kami tahu kau tak punya apapun untuk melunasi semuanya. Tapi kau punya smartphone baru. Ayo, kita ambil saja!”

Ketiga juragan tersebut berusaha menangkap Pak Encer. Para tetangga mulai berkeluaran demi menyaksikan keributan yang terjadi di pelataran rumah Pak Encer. Bu Encer juga ikut keluar. Ia berusaha melerai, namun belum apa-apa ia sudah terkapar karena terkena sambaran tangan Bu Ngap. Mulutnya langsung berbui dan tubuhnya kejang-kejang.

“Hentikan!” Pak RT datang bagai Ultraman.

“Pak Tong, Bu Ngap, Pak Nyek, apakah kalian tidak malu?”

Seluruh warga di daerah sekitar begitu serius menyaksikan aksi dramatis ini. Bahkan bayi yang masih nyusu langsung melepas mulutnya dari susu ibunya demi melihat Pak RT-nya yang sangat memukau. Tiga juragan tersebut pun tak mampu berkata apa-apa. Mereka terpaku.

“Kalian bertiga terkenal kaya di lingkungan kita ini. Tapi kenapa smartphone seperti itu sampai jadi rebutan? Kalian tidak mampu membelinya?”

Mereka bertiga langsung melepaskan tangan mereka dari smartphone-nya Pak Encer. Ketiga juragan itu langsung saling menyalahkan dan membiarkan smartphone tersebut jatuh terbentur batu. Pak Encer yang sudah berantakan dan amburadul akibat dikeroyok tiga juragan itu hanya bisa berteriak secara slow motion dari jarak beberapa meter.

Riuh tepuk tangan dan sorakan mengiringi langkah kepulangan ketiga juragan tersebut. Mereka malu. Pak RT tanpa sombong langsung mengangkat tangan kanannya dan dilambai-lambaikan seperti artis terhadap fansnya.

“Bagaimana saya membalasnya, pak? Saya sangat bahagia bila melihat suami saya dapat memiliki smartphone. Hampir saja tadi diambil. Syukur Pak RT datang.” Bu Encer pun tersenyum bahagia memandangi suaminya yang sedang menangis di pelataran sambil mengelus-elus smartphone-nya.

“Oh, jangan pikirkan itu, bu. Saya tulus kok. Tapi nanti malam Ibu datang saja ke kamar saya, kita balas yang perlu dibalas. Mumpung istri saya tidur di rumah mertua saya.” bisik Pak RT seraya meremas-remas lengan Bu Encer. Memang, walaupun sudah berkepala empat, kemolekan tubuh Bu Encer diakui seluruh penjuru desa.

Bu Encer senang urusannya dipermudah oleh Pak RT. Ia langsung melaporkannya kepada suaminya dan Pak Encer tanpa pikir panjang langsung mengangguk setuju walaupun ia sedang menangis sedih meratapi goresan di layar smartphone barunya.

***

Necis, pacar Kental, menangis tersedu-sedu di ruang tunggu sebuah rumah sakit tempat Kental dirawat. Sedang berlangsung operasi pengangkatan batu kerikil dari dalam otak Kental. Suasana sedih begitu terasa ruang tunggu tersebut walaupun hanya Necis yang berada disitu. Bapak dan ibunya Kental tak pernah datang menjenguk anaknya. Sekarang, mereka malah menginap di sebuah toko servis ponsel demi menanti sembuhnya smartphone Pak Encer.

Dokter telah keluar dari ruang operasi, menandakan operasi telah selesai. Tangisan Necis semakin menjadi-jadi setelah melihat ekspresi sang dokter yang begitu menggambarkan duka.

“Kami tak dapat mengangkat kerikilnya. Tapi kami bisa mengangkat ini keluar.”

Tiba-tiba raut wajah Necis berubah drastis dari duka menjadi suka. Ia tersenyum lebar dan kegirangan setelah melihat sebuah cincin emas 24 karat di telapak tangan si dokter.

“Akhirnya cincin pemberiannya yang kulemparkan malam minggu lalu karena kami bertengkar, bisa diselamatkan! Saatnya cari lelaki bodoh lagi!”

Sang dokter tetap melanjutkan kalimat-kalimat maafnya kepada Necis walaupun sudah terdengar suara “tit” panjang dari dalam ruang operasi pertanda Kental telah meninggal.

***

Sepulang dari toko servis ponsel, Pak Encer dan Bu Encer mampir ke sebuah rumah makan demi mengisi perut mereka yang sudah keroncongan semenjak smartphone Pak Encer koma. Mereka memesan nasi gulai. Ketika sedang lahap-lahapnya mereka makan dan nasi mereka pun sudah hampir habis, Pak Encer baru sadar kalau uangnya sudah habis untuk pengobatan smartphone-nya. Tentu saja ia tak mau kalau sampai smartphone barunya digadaikan demi membayar makan mereka berdua. Dengan perlahan ia pergi meninggalkan meja dan istrinya yang masih asyiknya menggigit daging ayam. Awalnya ia langsung saja menerobos keluar sampai pada akhirnya ia dipanggil oleh salah satu pegawai rumah makan tersebut.

“Istri saya yang akan membayar semuanya.”

Si pegawai membalas senyum. Pak Encer kembali melangkahkan kakinya menuju perempatan jalan. Selang beberapa detik, ia berlari kembali ke rumah makan tersebut.

“Aku pesan jus jeruk, dibungkus saja. Kau tahu, kan, cuaca siang ini begitu terik.”

Satu bungkus jus jeruk pun diberikan kepada Pak Encer. Lagi-lagi, Pak Encer berpesan kepada si pegawai dengan penuh penekanan.

“Ingat lho, ya! Istri saya yang akan membayar semuanya!”

Pegawai itu langsung melirik Bu Encer yang masih menjilati piring makannya. Wajah pegawai itu mulai kelihatan mesum.

***

Kini Pak Encer hanya sendiri di rumahnya yang sangat membuat orang menilai kalau ia adalah orang miskin. Tapi ia tak peduli terhadap apa-apa, ia hanya peduli terhadap smartphone-nya. Sampai suatu malam, terjadi perampokan di rumah Pak Encer. Orang miskin begitu apa yang mau dirampok, batin Pak RT saat mengintip lewat jendela kamarnya. Perampokan tersebut dilaksanakan oleh seseorang berambut panjang. Ia mengenakan topeng dan kostum hitam ketat polos. Ketika sudah memasuki kamar Pak Encer, ia berusaha merampas smartphone-nya. Namun tak kunjung bisa walaupun leher Pak Encer sudah digorok dan aksi itu sudah berlangsung tiga jam. Genggaman Pak Encer sangat kuat walaupun ia sudah meregang nyawa.

Pagi-pagi sekali perampok itu keluar dari rumah Pak Encer dengan membawa potongan tangan kanan Pak Encer yang masih menggenggam smartphone-nya. Darah masih mengucur kental. Perampok itu melangkah dengan santainya disaksikan tetangga-tetangga Pak Encer. Mereka tercengang saat si perampok membuka topengnya.

Dia adalah Bu Encer.

Pangkalan Bun, Mei 2017

Ilustrasi gambar diambil dari brilio

Biodata Narasi:

Nanda Insadani lahir di Medan, 29 Juni 1998. Beberapa cerpen dan puisinya banyak tersebar di berbagai media. Juga merupakan salah satu Top Author di sebuah situs cerpen. Cerpen-cerpennya termaktub dalam buku antologi Raib (Jejak Publisher, 2017), dan Urban Legend  (Jejak Publisher, 2017). Kini ia berdomisili di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

Nanda Insadani lahir di Indonesia dan malas menulis. Jika ingin berkomunikasi, Facebook : Nanda Insadani, WA : 085753022481.

Seberapa suka anda dengan cerpen ini?
Sending
User Review
0 (0 votes)
Silahkan like & bagikan ke media sosial kesayangan anda

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Beritahu saya
Navigate