>> Survey Berhadiah <<Download & Install Disini

Cerpen Sakit Ya Mas? karya Sheila Aktar Naina

Cerpen Sakit Ya Mas? karya Sheila Aktar Naina

Sakit ya mas?

  Aku menghempaskan tubuhku kasar. Dress merah marun masih melekat ditubuhku yang berkeringat. Benar-benar mengecewakan. Rasa sakit ini kurang ajar sekali. Sangat menusuk ulu hati.

 Dasar nggak tahu diri. Aku benci dengan semua drama kehidupan di keluarga jahanam ini. Sangat tak berkelas dan bermoral. Pencitraan di nomer satukan. Cihh, basi.

 Semua yang kucintai akan hancur begitu saja. Kucing yang menjadi sahabat pertamaku harus mati di lindas mobil. Bola sepak hadiah dari kakak harus berakhir karena gunting ibu. Rambut yang sengaja aku panjangkan juga berakhir karena gunting ibu.

 Banyak sekali. Banyak hal yang aku cintai. Namun ya, semua berakhir karena ibu. Sepatu, boneka beruang, miniatur doraemon, dan masih banyak lagi. Kalau aku sebutkan satu-satu, tidaklah cukup buku setebal wikipedia.

 Terserah ibu mau mengurungku di rumah bagai burung dalam sangkar. Namun satu bu. Jangan ambil sesuatu yang aku cintai. Tolong sangat. Apa aku bisa bahagia, jika hal yang membuatku senang malah ibu renggut.

“Yang sabar ya dek” dia kakakku. Aku biasa memanggilnya mas.
“Adek benci semua ini mas” tangan mas mengelus rambutku.
“Ibu hanya sayang”
“Itu yang namanya sayang mas? Adek nggak minta ibu harus menjadi apa yang adek mau. Tapi mas, adek ingin ibu mengerti kita. Menyayangi kita seperti ibu yang penuh kasih. Adek kadang iri sama ibu temen adek yang pengertian”

 Kalau perampok menginginkan anaknya untuk tidak jadi perampok maka ibu tidak. Dia malah menginginkan anaknya jadi perampok. Dan aku benci jadi apa yang ibu mau. Pekerjaan hina diantara yang paling hina. Semua pekerjaan akan terasa hina kalau kita terpaksa. Sekalipun itu pekerjaan mulia.

“Mas tau rasanya dek”
“Mas hanya tau. Nggak merasakan yang adek rasakan. Dia tak bermoral mas”
“Walau bagaimanapun dia yang melahirkan kita dek. Tanpa dia kita nggak akan ada didunia ini”
“Syukur mas, kalau kita nggak lahir didunia. Kita nggak perlu merasakan yang namanya penderitaan”

 Dia pernah menghinaku anak setan. Dia nggak mikir apa ya? Aku anak setan. Dan dia ibuku. Berarti dia yang setan. Aku hanya anaknya. Bodoh sekali otaknya yang katanya lulusan S2 itu.

 Pernah juga aku dihina anak durhaka. Kala itu aku menghina sastra Indonesia yang tak membolehkan kata ibu durhaka. Jadi aku ganti saja ibu terkutuk bin nauzubillah. Jangan karena anak yang menentang ibunya dinamakan anak durhaka. Anak punya hak membela harga dirinya. Dan ibu yang terkutuk tidak boleh menghina anaknya durhaka. Pun kalau anaknya melawan.

 Komplit sekali hidup yang kualami. Uang nggak punya, orang terkasih nggak punya, selalu di hina dan di rendahkan. Hanya bilur merah yang membentang disepanjang puggung yang menjadi temanku. Juga tak lupa sundutan rokok. Aku tak sudi memakan uang haram yang ibu berikan. Walau itu menggoda untuk digunakan.

“Kalau saja Tuhan bisa mengabulkan doa adek. Adek akan minta untuk tidak dilahirkan mas”

 Tuhan ya? Aku sampai lupa dengan nama itu. Aku percaya dengan adanya Tuhan. Aku percaya dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Namun aku membenci Tuhan, karena setiap doa yang aku lantunkan saat hari minggu di Gereja tak pernah sekalipun diijabah. Dan mulai saat itu aku benci memohon kepada Tuhan.

 Aku pernah berdoa kepada Tuhan untuk memulangkah ayah. Sampai sekarang ayah tidak pulang. Aku berdoa agar ibu bisa menjadi ibu yang baik. Nyatanya ibu makin buruk saja. Aku berdoa agar mas tidak pulang dalam keadaan babak belur. Malah mas pulang dengan keadaan yang lebih parah. Aku berdoa agar ibu mati. Sampai sekarang dia seger waras saja.

 Semua yang aku harapkan malah datang dengan kebalikannya. Tuhan berniat mengujiku apa membunuhku?

“Apa adek lelah?”
“Sangat mas. Adek lelah sekali. Puncaknnya malam ini mas. Adek benar-benar ingin pergi sekarang juga”

 Ibuku seorang germo. Atau kalian bisa memanggilnya mucikari. Kalau saja cerita ini sama dengan film yang sering tetanggaku lihat. Yang menceritakan kehidupan pelacur untuk membahagiakan anaknya. Maka aku akan bangga mengatakan dia ibuku.

 Sayang sekali. Ceritaku sangat berbeda. Disini. Tepatnya malam ini. Dia rela menjual keperawanan anaknya hanya untuk sekoper uang. Dia ibu biadap yang sangat tak punya aturan. Kembali sesuatu yang aku cintai alias keperawanan terenggut karena ibu.

“Ayo kita pergi. Kalau kita tetap disini. Mas yakin, akan ada polisi membawa mas kepenjara”
“kenapa?”
“Mas membunuh lelaki itu”

 Ah, aku tidak menyadari wajah mas yang seharusnya tampan malah terlihat mengerikan. Lebam sana-sini menghiasi. Ada cipratan darah di kaus mas yang berwarna biru toska. Dan juga sobekan di lengan kiri yang kuyakini karena senjata tajam.

 Kau terlambat datang menyelamatkan adikmu mas. Saat dia datang, acara pemerkosaan sudah selasai dilakukan. Aku tak tahu apa yang terjadi didalam kamar itu. Tubuh ini sudah melangkah pulang. Pulang dalam keadaan sehancur-hancurnya.

 Kuelus rahang mas yang lebam berwarna keunguan. Aku tahu itu menyakitkan. Mas hanya berpura-pura tersenyum.

“Sakit ya mas?”
“Sakitan hati mas yang tidak bisa melindungimu”

 

oleh: Sheila Aktar Naina

facebook: Aktar Naina

Baca juga cerpen lainnya di “kumpulan cerpen”

Seberapa suka anda dengan cerpen ini?
Sending
User Review
0 (0 votes)
Silahkan like & bagikan ke media sosial kesayangan anda

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Beritahu saya