Buku/Novel OriginalNyari buku yang oke? Beli aja di OkeBuku

Cerpen Secuil nikmat surga

Cerpen Secuil nikmat surga

 

Secuil Nikmat Surga

 

Siang dan malam tak lagi berbeda bagi Doni. Matahari dan bulan tak pernah terbit kembali. Ia tak ingat, sudah hari keberapa ia tinggal disana. Yang ia ingat hanya hari-hari kelam yang memaksanya terdiam. Saat ini yang terlihat dimatanya hanya sekumpulan orang-orang pasrah terhadap nasibnya. Hanya mata-mata sayu yang seperti kehilangan impian.

Mungkin mereka sudah beberapa bulan bahkan sudah hitungan tahun tinggal ditempat itu. Bisa jadi mereka adalah pencuri, penjambret, koruptor, atau mungkin sama denganku, yang katanya penganiaya dan pembunuh manusia tak berdosa.

Di dalam 4×4 meter persegi menutup pandangan mata. Menepis terang cahaya dunia yang seharusnya membawa kehangatan. Sangat lengkap dengan karpet coklat yang melekat dengan tanah. Bahkan masih lebih keras dari karpet lusuh yang sudah layak dikebumikan. Ditambah lagi tak ada jendela untuk menghirup udara segar. Hanya ada sebuah pintu berlubang, terbuat dari tongkat-tongkat tegak yang bentuknya persis dengan dinding disisi yang sama.

Dalam ruang 4×4 meter persegi tersebut. Setidaknya Doni bisa melihat lalu-lalang penghuni semesta. Yaitu para pemilik seragam bertuliskan pangkat sebagai pelindung masyarakat. Merekalah yang paling sering menghiasi pandangannya. Kekanan dan kekiri lewat depan pintu, yang masih bisa terlihat meskipun selalu tertutup dan terkunci.

Hanya merekalah yang terlihat. Ia tak bisa lagi melihat gadis berkerudung, dari balik jendela tempat kerjanya disiang hari. Ketika gadis berkerudung itu jalan kaki beserta teman-temannya, untuk kembali ke kos setelah belajar di universitas dekat tempat kerjanya.

Tak bisa melihat lagi, penjual bakso dan nasi goreng, yang setiap malam menawarinya dengan ketukan bambu dan mangkok pada gerobaknya.

Ia rindu semua aktifitas hariannya.

Ia rindu suara daun yang dijatuhkan waktu. Diseret angin dibelakang rumahnya. Ia rindu sapaan sang surya, disaat ia berlari mengitari jalan didesa. Ia rindu tarian rumput dan pohon-pohon sebagai temannya kala sepi. Ia juga rindu gemricik air sungai menghantam bebatuan dekat kebunnya.

Ia ingin kembali bisa merentangkan badan dikasur kapas tempat ia memulihkan tenaga. Ia ingin mengulang lukisan pulau pada bantal, yang biasanya seminggu sekali baru wangi sabun cuci. Ia ingin bercanda ria dan saling mengolok-mengolok dengan teman-temannya. Ia ingin menikmati suasana malam, ketika bertengkar dengan adik-adiknya, yang terjadi hanya karena berebut saluran televisi. Sehingga orang tuanya harus melerai mereka, karena adiknya yang paling kecil selalu menangis untuk mencari kemenangan.

Ia rindu semuanya, yang tak bisa lagi ia perbuat pada 4×4 meter persegi tempat ia menginap siang dan malam.

Doni masih tak kuasa berpikir, kenapa ia harus dipaksa menetap selama 15 tahun disana. Dan baru bisa pulang untuk menjalani hari seperti biasanya. Rasanya jantungnya seakan berhenti ketika 3 kali palu telah diketukan diatas meja besar berwarna hijau, tanda bahwa ia resmi menjadi pelaku penganiayaan dan pembunuhan.

“Saya hanya melindungi diri, ia menodong saya dengan sebuah pisau. Dan akan membunuh, jika saya tidak memberikan semua harta dan benda yang saya bawa. Namun setelah saya berikan, ternyata ia masih memukul dan berniat menusukan pisau kepada saya. Dan akhirnya saya melawan. Hingga tak sengaja pisau itu menusuk perutnya.”

Itulah kata pembelaan yang selalu dikatakan Doni sebelum palu diketukan oleh hakim. Tapi tetap saja keputusan akhir tak bisa ia dapatkan kabar baiknya.

Memang ia tak bisa menyangkal bahwa orang tersebut telah kehilangan nyawa karena tangannya. Tapi tetap saja itu adalah pembelaan diri yang seharusnya tak bisa dikatakan sebagai tindak pembunuhan.

Namun keputusan akhir berkata lain. Keluarga korban yang katanya sangat terhormat, Tak terima anggota keluarganya dikatakan sebagai penjambret, bahkan punya keinginan membunuh. Sehingga bukti dan saksi rekayasa berhasil dibuat dengan sangat sempurna, demi menentukan tentang siapa yang kalah dan menang. Dan bukan lagi siapa yang benar dan yang salah.

***

Doni pernah termenung dalam sudut sepi, ketika masih menjalani hari dimana nama baik masih bersemayam mengikuti latar belakang. Tentang manusia paling tak berguna dimuka bumi.

“Siapakah dia?

Siapakah orang yang paling tak berguna?

Apakah dia yang sama sekali tak berguna bagi keluarganya?

Yang hanya membawa kepedihan untuk kedua orang tuanya?

Ataukah orang tua renta yang sudah tak mampu melihat, mendengar dan berjalan yang seakan hanya menunggu panggilan Tuhan datang?

Apakah orang sakit parah yang tinggal menunggu garis lurus pada deteksi jantungnya?

Ataukah para pemuda-pemudi aspal yang menghadang mobil-mobil besar, hanya untuk menumpang kesuatu tempat menuju tempat lainnya?

Mungkinkah dia orang yang berkumpul ditepi jalan, memakai tato bukan atas nama kesenian, dan meminta pajak atas nama keamanan?

Mungkinkah ia, para pengangguran yang hanya numpang hidup pada orang yang mengasihinya?

Ataukah orang-orang terhormat yang berharga diri tinggi tetapi tak bisa menghargai manusia lainnya?”

Saat itu, pertanyaan yang dilahirkan dari lamunanya tak mampu ia pahami jawabannya. Namun saat ini, ia seakan tertampar pada satu kenyataan. Ketika menyadari bahwa saat ini ia juga masuk dalam kategori tersebut.

Dialah orang yang tak berguna bagi keluarganya. Bukan hanya membawa kepedihan, tapi meniadakan dirinya saat semuanya berkumpul dimalam hari.

Yang akan berstatus tua dan menunggu panggilan Tuhan karena hukuman yang sama sekali tak masuk akal baginya.

Dia layaknya orang sakit yang hanya bisa bergerak pada 4×4 meter tempat tinggalnya.

Yang tak akan pernah bisa melihat mobil-mobil besar dalam kurun waktu bertahun-tahun.

Dia sendirilah yang telah tergores oleh tato nama buruk yang tetap akan terkenang dimata masyarakat awam.

Dia pula lah yang kehilangan harga diri sebagai seorang manusia.

 

Ntah apa yang ada dalam pikirannya, hingga ia hanya duduk didepan tongkat besi yang tegak, sebelum akhirnya membenamkan wajahnya pada kedua lututnya.

Doni masih terisak saat orang-orang disekitarnya telah memejamkan mata. Memikirkan bagaimana kabar orang-orang yang ia sayangi dirumah tanpa kehadirannya. Melamunkan dirinya berada ditempat tinggalnya saat ini. Selama bertahun-tahun tanpa ada tanggal merah untuk berlibur.

Mengkhawatirkan bahwa setelah kepulangannya kelak. Dunia akan menolaknya. Pandangan mata yang biasanya tersenyum terhadapnya, berubah menjadi rasa benci dan kemarahan. Hingga semua teman-teman yang biasanya bersahabat dengannya, tak lagi menganggap pernah mengenalnya.

Ia masih terjaga dalam lamunanya, sampai orang-orang disekitarnya kembali membuka matanya tanda pagi telah tiba. Ia heran dengan orang-orang itu. Seakan mereka tak merasakan kesedihan, seakan berada pada ruangan itu adalah hal yang biasa. Doni terus menatap mereka dengan heran.

“Hei, kenapa kau melihatku seperti itu? Apakah sudah selesai tangisanmu malam tadi?” seseorang yang bertubuh tinggi besar bertanya, karena sadar kalau Doni dari tadi melihatnya.

Doni tak menyangka, ternyata ada yang mengetahui, ketika ia terisak sepanjang malam.

Belum Doni menjawab

“Kenapa! kau heran kalau aku tahu bahwa kau semalam menangis? orang tinggi besar itu melanjutkan perkataanya.

Tidak usah heran, semua orang disini juga tahu hal itu, dan semua orang disini juga sudah menyangka bahwa kau akan seperti itu, khususnya setiap hari pada awal mula disini, namun lama-lama kau nanti juga akan terbiasa hidup seperti kami saat ini”

Tak kuasa Doni menjawab setiap perkataan orang itu, dirinya masih lemas dan lelah karena belum tidur semalaman. Sehingga ia hanya membalas dengan anggukan dan senyum yang ia paksakan.

 

Beberapa hari kemudian, 4×4 meter persegi bukanlah neraka baginya, banyak orang baik yang sudah ia kenali disana. Meskipun juga masih banyak orang yang memang bisa dibilang pantas untuk tinggal selamanya ditempat itu.

Kini ia tak lagi menangis sepanjang malam, meskipun ia masih belum ikhlas sepenuhnya berada di tempat itu karena kesalahan yang tidak ia lakukan.

Siang dan malam sudah bisa Doni rasakan kehadiranya. Yang ia lakukan saat ini bukanlah meratapi kemalangan nasib, tetapi segala kegiatan yang dilakukan oleh seorang penghuni 4×4 meter persegi. Ditempat itu banyak orang yang bekerja dan melakukan aktifitas seperti manusia pada umumnya, mulai dari menjadi tukang kayu, yang membuat kursi dan meja. Lalu ia sendiri menjadi salah satu tukang bersih-bersih, tanpa memakai seragam kuning yang biasa ia lihat disepanjang jalanan kota. Dan ada pula yang menjadi karyawan koperasi yang dikelola oleh pihak 4×4 meter persegi. Tak hanya itu, setiap hari sabtu pagi, mereka diwajibkan untuk berolahraga, seperti volley, dan tenis lapangan yang berada ditengah gedung penyedia 4×4 meter persegi tersebut.

Ia sudah mulai bisa tersenyum melihat semua hal layaknya kehidupan yang ia jalani sebelumnya. Mulai bisa bercanda dengan teman satu ruangannya. Ditambah lagi ia sudah mulai menemukan pembangkit hidupnya. Dari keluarga dan teman-teman yang berkunjung untuk mengetahui kabarnya.

Rasanya hilang sudah anggapan bahwa dunia akan menolaknya, bahwa masyarakat akan membenci dan marah kepadanya. Dan bahwa semua teman-temannya akan pergi tanpa menganggap pernah mengenalnya.

Semua kekhawatiran itu hilang, berganti senyum yang semakin hari semakin ikhlas. Hingga akhirnya ia merasa bahwa itulah secuil nikmat surga, yang saat ini masih bisa ia rasakan.

 

 

Oleh: Mr Eko

 

Punya cerpen?

Kirimkan cerpen terbaik anda disini dan tunggu seleksi untuk ditampilkan seperti cerpen di atas.

Silahkan like & bagikan ke media sosial kesayangan anda

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Beritahu saya