Cerpen Hujan Diwaktu Senja oleh PecanduKata

HUJAN DIWAKTU SENJA

Biarlah orang menganggapku gila. Mereka tak pernah merasakan cinta yang seperti kurasakan saat ini. Jika mereka merasakannya, mereka bahkan akan lebih gila dari diriku. Setiap hari. Saat senja akan datang. Aku memutuskan untuk meninggakan segala hal yang menghalangiku untuk menyambutnya. Aku hanya ingin menuju tempat dimana aku dan dia dipertemukan untuk pertama kali.

Masih teringat jelas saat itu. Aku sedang duduk diatas bukit yang menjulang menghadap laut. Disekelilingku banyak sekali bebatuan karang yang telah menyatu dengan tanah. Tampaknya bebatuan itu telah ditata rapi oleh pengelola pantai. Serta disamping kananku ada satu pohon yang aku tak tahu namanya apa. Kunamai saja itu pohon senja, karena aku sangat menyukai keindahan senja yang berwarna jingga dan seluruh teman-temannya yang memanjakan mata juga menghangatkan.

Aku pun masih ingat, suara ombak bersahutan kegirangan. Senja yang menyatu dengan bayangannya. Seakan setengahnya tenggelam didasar laut. Mereka sepertinya ikut senang dengan pertemuan kami. Mungkin tak seorang pun bisa memahaminya kecuali aku, senja, laut, pohon, semua benda yang ada disana saat itu dan juga Tuhan.

Waktu itu, aku pertama kali melihatnya dilayar ponsel. Melalui video yang kulihat di youtube. Aku anggap itu adalah pertemuan kami yang pertama. Memang biasanya dua insan manusia akan berucap hai atau hallo, mungkin juga berjabat tangan untuk mengawali perkenalanya. Tapi hal itu tak berlaku untuk dia dan aku. Yang ia ucapkan saat itu, oh bukan ucapan, lebih tepatnya nyanyian. Sebuah lagu yang berjudul anugrah terindah yang pernah kumiliki dari Sheila On 7. Dia menyanyikan lagu itu untuk awal perkenalan kami, sebagai rindu pertama yang ia berikan kepadaku. Suaranya sangat merdu. Dia terlihat sangat cantik dan tatapannya sangat menenangkan. Ah. . .Tetapi bukankah seharusnya aku yang memetikan senar gitar dan menyanyikan lagu itu untuknya. Karena aku adalah lelaki, kata kebanyakan orang, sudah selayaknya laki-laki yang menyambut seorang perempuan, apalagi itu sebuah awal perkenalan. Tapi sudahlah, mungkin cara kami dipertemukan sudah diatur oleh Tuhan dengan cara yang berbeda dan begitu istimewa.

Beberapa rindu yang ia nyanyikan telah membuatku kecanduan. Ingin kumendengarkan suaranya setiap hari. Bahkan setiap saat, terutama sebelum tidur agar kami dipertemukan dalam alam mimpi. Juga ingin kudengar saat pertama kali terbangun dari tidur malam sebagai penyemangat pagi. Ah begitulah, mungkin sama dengan orang-orang lainnya yang ketika dimabuk asmara. Lamunan, pengandaian dan impian bersamanya tak akan habis jika dibahas walaupun secara terus-menerus disetiap harinya.

Hatiku semakin hari semakin memerah. Penuh rasa cinta kepadanya. Setelah pertemuan kami waktu itu. Aku memutuskan untuk mencari tahu segala hal tentang dirinya melalui internet, media sosial, dan sumber-sumber terpercaya yang memuat semua hal tentang dirinya. Ratusan foto telah kusimpan dimemori ponsel dan laptop. Ada juga yang kuedit berdampingan dengan fotoku. Lalu dari beberapa editan tersebut, aku ambil satu. Aku cetak untuk diselipkan didompet – bersama dengan pahlawan-pahlawan yang menempel dilembaran-lembaran kertas bernominal. Ternyata kudapati namanya adalah dinda, salah satu pengagum hujan dan penikmat senja seperti diriku.

***

Beberapa bulan telah berlalu. Rasa yang hidup dihatiku kini menjalar disekujur tubuh. Setiap hari, setiap senja akan datang bersama cahaya jingga yang menawan. Aku selalu pergi ketempat itu, tempatnya juga masih sama, ada pohon senja dan bebatuan yang masih rapi tertata, namun perbedaanya sudah tak ada lagi dia.

Aku pergi ketempat itu setiap sore hari, untuk mengenang pertemuan kami yang pertama. Setelah pertemuan kami waktu itu. Rasanya telah kuhabiskan rindu yang ia nyanyikan kepadaku, hingga kami tak punya lagi pertemuan selanjutnya. Ah, aku juga tidak salah sudah menghabiskannya. Bukankah orang yang mencintai memang seperti itu. Apa yang dilakukannya sering berlebihan karena cintanya yang begitu besar?

Benar-benar sangat membosankan. Hidup tanpa kabar darinya. Tanpa rindu yang ia nyanyikan. Tanpa senyuman manis ketika menyebutkan judul lagu yang dia spesialkan untuk diriku. Sayang sekali, semua keromantisan itu hanya tinggal ingatan dan perandaian agar terulang kembali. Semua sirna. Aku telan dan kuhabiskan karena kerinduan.

***

Saat ini apa yang bisa kuperbuat? Bagaimana mungkin aku menuntutnya untuk meluangkan waktu sejenak. Guna bertukar tawa ataupun kesedihan, jika aku bukanlah salah satu kesibukan yang  ia inginkan. Sebenarnya aku ingin bercerita banyak tentang hari yang kujalani. Juga bertanya padanya tentang hal-hal yang ia lalui. Tapi semunya itu hanya angan dan impian yang sebentar lagi hanya akan menjadi mimpi untuk dikenang.

Setiap hari saat senja akan datang, aku masih ketempat itu. Namun kali ini bukan untuk membayangkan dia bernyanyi untuk memberikan rindu. Menemaniku untuk melihat dan merasakan senja. Bukan! Bukan lagi tentang itu. Aku ketempat itu, untuk menuliskan kabar padanya. Tentang hari-hari yang kujalani tanpa rindu darinya. Aku tahu, jika apa yang kutulis tak akan dibacanya dalam waktu dekat. Mungkin saja, tidak akan terbaca olehnya sampai kapanpun. Tapi aku tetap memutuskan untuk menuliskannya setiap hari. Saat senja akan datang. Di tempat itu.

3 Bulan telah berlalu sejak pertama kumenuliskan kabar untuknya, melalui kertas yang kusertai foto diriku saat menuliskannya.  Kuhitung telah terkumpul 91 lembar kabar dan lembar foto yang kumasukan dalam album kenangan. Kulihat masih ada satu lagi tempat yang masih kosong. Besok sore aku akan kesana, ketempat itu untuk menuliskan kabarku padanya – untuk yang ke 92 kali.

Seperti biasa, setiap kali aku ketempat itu, aku selalu membawa album yang berisi kabar dan foto untuknya. Kutaruh disamping kanan, kusandarkan pada pohon senja. Lalu mulai menulis semua kabar tentang diriku. Semua kata-kata yang sedang kutulis, kusuarakan seperti sedang membaca. Supaya ia mendengarnya. Sebenarnya tulisan itu bukan hanya kabar tentang keseharianku, tetapi juga perasaan dan kerinduan yang tak bisa kutahan ledakannya.

Sementara itu, kulihat dua orang perempuan berjilbab merah muda dan biru. Bergantian foto untuk mengabadikan kisah mereka. Lumayan dekat dengan tempatku, jadi aku bisa mendengar jelas percakapan mereka yang sesekali membicarakan diriku.

“Hei, pemuda itu gila ya?” tanya salah satu perempuan berkerudung merah muda kepada temannya.

“Hust, ngomong apa kamu, pemuda serapi dan sekeren itu kau bilang gila.” Bantah yang berkerudung biru.

“Tapi lihatlah, dari tadi dia bicara sendiri sambil membawa bolpen dan kertas, sesekali dia juga tertawa, mencium kertas itu. Dan lihatlah, matanya juga berlinangan air mata, Lihatlah!”

“Iya, kau benar. Tak ada seorang pun disana. Tapi coba tengok lagi, dia sesekali melihat ponselnya, mungkinkah dia sedang menunggu kabar kekasihnya? Atau Mengenang pertemuan dengan kekasihnya yang sekarang sudah tiada?”

“Ntah lah. Mungkin kau benar. Biarkan saja, toh itu bukan urusan kita, ntah dia benar-benar gila, atau memang sedang mengenang kebersamaannya dengan kekasihnya. Kita kesini untuk menikmati senja dan berfoto bersamanya”

Masih kudengar jelas percakapan mereka. Tapi kubiarkan saja. Hampir setiap hari jika aku disini, banyak orang yang bicara seperti itu. Bahkan aku sudah beberapa kali melihat dua wanita itu, dan mereka juga berkata hal yang sama. Aku tak peduli. Kulanjutkan kembali saja curahan hati untuk kekasihku yang ke 92 kali ini.

“Tapi, bagaimana jika kita menyapanya sebentar, mungkin bertanya apa yang dia lakukan atau siapa dia disini sendirian?”

“Apakah kamu yakin akan menghampirinya?”

“Sangat yakin, ayolah.”

“Ehm, baiklah. Tapi bagaimana kalau dia benar-benar gila. Memukul kita atau bahkan mendorong kita kelaut?”

“Setahuku tak pernah ada orang gila yang berpenampilan seperti itu. Kalaupun ada, berarti mereka gila dalam hal lainnya.”

“Kalau begitu, baiklah. Ayo.”

***

Percakapan mereka benar-benar mengganggu sajak-sajak yang kutuliskan. Bolpen yang tadinya kupegang erat, kutaruh disamping album foto, dan kertasnya kumasukan dalam saku baju. Kudatangi mereka yang berniat menghampiriku.

“Ada apa mbak, aku daritadi mendengar dengan jelas apa yang kalian bicarakan. Bisakah kalian diam, atau mungkin pergi dari sini saja jika memang tak bisa diam. Bukankah membicarakan orang lain itu tidak baik?”

“Ma, maaf mas, kami tak bermasud buruk, hanya saja kami heran dengan apa yang kamu lakukan.” Jawab wanita berkerudung biru

“Memangnya apa yang kulakukan, aku hanya melakukan hal yang menurutku perlu kulakukan, apakah itu salah?”

“Gini mas, maaf sebelumnya. Dari tadi kami melihatmu sering berbicara sendiri, menangis dan tertawa, sesekali juga melihat ponsel dan diam kembali. Sebenarnya apa yang kamu lakukan dan berbicara dengan siapa?” Sahut wanita berkerudung merah muda.

“Kenapa kalian ingin tahu tentang apa yang kulakukan? Bukankah kalian sudah menduga-duga bahwa aku gila, seperti yang kalian bicarakan tadi?”

“Iya mas, maaf. Kami menduga seperti itu karena kamu sering berbicara tanpa ada seorang pun didekatmu.”

“Kalian tahu mbak? Banyak sekali orang-orang didunia ini yang bahkan tanpa mereka bicarapun dikatakan gila. Bercengkrama dengan kelompoknya yang mempunyai pribadi berbeda juga dikatakan gila. Hidup tak sewajarnya dikalangan masyarakat dikatakan gila. Makan makanan yang dipungut dari tempat sampah dikatakan gila. Orang yang selalu tertawa dimanapun dikatakan gila. Kerja tanpa henti disebut gila. Bersaing mendapatkan tahta dikatakan gila. Dan bahkan bagi manusia yang terlalu mencintai juga dikatakan gila. Lalu sebenarnya siapakah orang gila itu? Apakah semuanya disebut gila? Atau kalian juga pantas dikatakan gila?”

“Bukan begitu mas, maaf. Kami tadi memang membicarakanmu tentang apa yang kami lihat, yang tidak sewajarnya ditempat ini dilakukan.”

“Aku tidak gila! Aku hanya berbicara dengan kekasihku. Menceritakan tentang hari-hari yang kujalani ketika dia sama sekali tak mengabariku. Lihatlah, album foto yang kusandarkan dipohon senja itu, itu adalah sajak-sajak yang kutulis setiap hari disini. Ditempat ini, sudah banyak dari teman-teman kalian yang katanya ingin liburan, tapi malah sibuk mengurusi urusanku. Mereka datang kesini hanya untuk mengataiku gila. Aku tidak gila! Aku hanya ingin bercerita kepada kekasihku yang sangat kucintai. Suatu saat iapasti mengabariku lagi, dengan kata hallo atau hai, mungkin juga dengan mencium tangan kananku dan bilang “maaf telah lama menungguku”.

“Iya iya, baiklah. Maaf. . Tapia pa mas bilang tadi, Pohon senja?”

“Iya, pohon itu kunamai dengan nama pohon senja, karena ada disampingku hanya saat senja”

“Lalu dimanakah kekasihmu saat ini? Sahut wanita berkerudung biru.”

“Seharusnya, aku tak menceritakan semua ini pada kalian. Karena kalian tak akan mengerti, tapi tidak apa, rasanya juga sudah sesak jika hal ini kusimpan selama sehari saja. Asal kalian tahu, setiap orang yang bertanya padaku, dan kuceritakan yang sesungguhnya. Mereka tertawa tanpa henti dan menjadi gila. Tapi sudahlah, sudah terlanjur kuceritakan sepenggal kepada kalian, akan kulanjut penggalan berikutnya. Semoga saja kalian tidak gila seperti orang-orang itu.”

Beberapa menit telah berjalan, tapi mungkin belum sampai hitungan jam, karena malam belum menampakan gelapnya. Aku menceritakan semuanya kepada mereka, bermula dari pertemuanku dengan kekasihku dan dari rindu-rindu yang kuhabiskan hingga ia tak mengabariku lagi. Setelah selesai kuceritakan kepada mereka. Aku heran, mereka berdua tak ada satupun yang menjadi gila. Yang satu meneteskan air mata, dan satunya lagi yang berkerudung merah muda hanya menatapku dengan pandangan bingung. Ntah apa yang ada dipikiran mereka, aku tak tahu. Yang jelas mereka tidak menjadi gila seperti orang-orang sebelumnya. Ataukah saat ini mereka juga sudah gila, tapi dengan penampakan yang berbeda?

***

Gelap mulai merajai, kedua wanita itu yang bernama Santi dan Fifi telah berlalu bersama senja yang meninggalkanku pada hari ini. Aku gerakkan kedua kaki melangkah pergi meninggalkan tempat itu, sembari kutitipkan pohon beserta semua kenangan itu kepada malam dan cahaya bulan agar menjaganya dari kegelapan.

Esok hari telah tiba, kulihat tanah basah disekeliling rumahku. Pertanda hujan telah mengguyur kotaku untuk pertama kalinya dimusim kemarau yang panjang. Aku teringat dengan tempat itu. Jangan-jangan disana juga hujan. Bukankah dia sangat menyukai hujan. Mungkinkah dia semalam turun bersama hujan dan bermain dengan rintikannya. Dan saat ini dia sedang menungguku disana untuk menyambut kerinduanku selama ini.

Aku tak ingin berpikir panjang ataupun menerka-nerka. Aku datangi saja tempat itu sekarang. Aku bawa album foto beserta kabar rindu yang kutuliskan setiap hari untuknya, serta kubawa cincin yang telah lama kusembunyikan sebagai kejutan untuk dirinya jika sudah kembali. Aku yakin dia disana sekarang, datang bersama hujan. Jadi setelah aku menemuinya, akan kukenalkan ia kepada kedua orang tuaku. Kalau perlu kepada orang-orang yang selama ini menganggapku gila. Akan kubuktikan kepada mereka semua, dan kututup mulut mereka dengan kenyataan bahwa dia telah kembali untuk hidup bersamaku selamanya.

***

Ternyata benar, hujan juga mengguyur tempat ini. Pohon senja juga tersenyum. Hujan telah menghilangkan dahaganya karena panas dimusim kemarau panjang. Tapi kekasihku tak ada disini. Mungkinkah aku yang terlalu lama menyadari kedatangannya, hingga ia pergi lagi bersama pelangi? Benarkah begitu? Tidak bisakah ia menungguku sejenak untuk menyambutku yang sudah sangat lama menunggunya? Dinda kekasihku, aku tahu kamu tadi disini, dan aku mengahampirimu dengan membawa semua hal yang sudah aku siapkan dari dulu. Kenapa kamu tak mau menungguku sejenak, apakah hanya sebentar itu waktumu untuk menungguku? Dinda saat ini masih pagi, tak mungkin aku berdiam disini, sedangkan kamu hanya akan datang disaat senja dan hujan.

Sementara semua yang ada disini seakan menertawaiku karena aku telat mengampiri kekasih yang telah terlalu lama menungguku. Begitupun dengan pohon senja, ia memang tak menertawaiku, tapi ia tampak kecewa dengan diriku yang terlalu lamban. Aku hanya bisa menundukan kepala dan pulang meninggalkan suara-suara gila yang menertawaiku.

***

Sore hari, saat senja akan datang. Aku kembali duduk disana, bersiap dengan album foto, kertas dan bolpen. Kali ini juga aku bawa cincin yang sudah aku siapkan special untuk dirinya. Saat ini sudah tak ada lagi yang menertawaiku seperti pagi tadi. Mereka sudah mendukungku kembali seperti hari-hari sebelumnya. Kali ini saat senja belum menampakan kilauannya. Hujan sudah lebih dulu meneteskan rintikan kecil dan sesaat kemudian mengirimkan rintikan yang lebih besar untuk membasahi tempat duduk dan seluruh badanku. Aku ingin berlari mencari tempat untuk berteduh, tapi bukankah ini hujan, dan dia sangat menyukai hujan. Aku akan tetap ditempat ini, menunggu dia turun bersama rintikan yang nantinya akan memelukku erat.

Dingin. Kulitku mulai keriput. Senja sudah berkilauan. Hujan tinggal menyisakan tetesan yang terjatuh dari pohon senja disamping kananku. Kutengok disekelilingku, sambil meminta bantuan kepada pohon senja dan bebatuan yang saat ini tergenang air. Masih tidak ada kekasihku. Si pengagum hujan. Padahal aku ingin menunjukan kepadanya sesuatu yang sangat spesial.

Saat ini adalah momentum yang paling dia sukai. Waktu yang telah kami sepakati sebagai saat terindah untuk kebersamaan kami. Waktu itu adalah hujan diwaktu senja yang menyisakan genangan air dan semua genangan itu memancarkan keemasan cahayanya. Seperti senja yang tenggelam ditengah laut. Namun diwaktu terindah ini. Diwaktu yang aku sudah siap untuk menyambut kedatangannya kembali. Untuk merajut masa depan bersamanya sampai akhir hayat nanti. Tapi tetap saja. Dia tak juga datang bersama rintikan hujan, meskipun diwaktu senja, sebagai waktu terindahnya.

 

Cerpen Hujan Diwaktu Senja oleh PecanduKata

Hujan Diwaktu Senja

Oleh

PecanduKata

Silahkan like & bagikan ke media sosial kesayangan anda

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Beritahu saya
Navigate