Download GratisKumpulan Ebook Novel & Cerpen Pdf Gratis

Cerpen Cinta Dari Surga karya Kinin

Cerpen

Cinta Dari Surga

cerpen cinta dari surga karya kininSemburat kemerahan telah berganti dengan warna kuning keemasan di ufuk timur. Menandakan pagi telah datang menyapa. Menggantikan tugas sang penguasa kegelapan. Namun belum juga ada tanda-tanda kehidupan dari kamar Faris. Berkali-kali Mirna mengetuk pintu kamarnya. Dan selama itu pula, ketukan pintunya tak berbalas.

Tok! Tok! Tok!

Tak ada suara untuk sekedar membalas ketukan pintu itu.

Tok! Tok! Tok!

“Pak…” panggilnya lirih, satu telinganya menempel di pintu.

Apa yang sebenarnya terjadi? Lembur lagi? Ya. Mungkin saja itu yang terjadi. Sebab tidak ada hal lain yang dilakukan oleh lelaki bernama Salman Alfarisi selain bekerja, bekerja dan bekerja. Dia bekerja seperti tak mengenal waktu. Berangkat pagi pulang larut malam. Begitu seterusnya ia lakukan selama bertahun-tahun.

Seolah sudah lelah meladeni sang majikan, Mirna akhirnya menyerah pada ketukan pintu terakhirnya. Setelah itu ia kembali menyibukkan diri di dapur menyiapkan sarapan untuk yang lainnya.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 kesunyian masih tampak di ruangan Faris. Lebih tepatnya di kamar Faris. Ini adalah untuk pertama kalinya seorang Hardworking seperti Faris belum bangun sampai sesiang ini.

Semua berpikir, dia kelelahan. Dan butuh istirahat yang cukup untuk kembali bergelut dengan pekerjaannya.

Jika benar begitu, itu adalah pemikiran yang berbeda dengan kenyataan yang ada. Faris kelelahan itu sangat wajar, tetapi bangun kesiangan adalah kesalahan besar. Sebab Meetingpukul 10.00 sudah menanti.

“Selamat pagi… Kenapa sepi? Apa semua sudah pergi sepagi ini?” tanyanya kepada Mirna. Dia berjalan dengan setengah nyawa yang baru terkumpul.

Di ujung ruangan, Mirna yang tengah mencuci piring bergeleng aneh.

“Bapak tidak apa-apa tho?”

“Memangnya kenapa? Ada yang salah?”

Mirna mengisyaratkan Faris untuk melihat jarum jam. Dan betapa terkejutnya dia saat tahu sudah pukul setengah sepuluh. Itu artinya setengah jam lagi meeting dimulai. Tidak ada pilihan lain, selain cepat-cepat mandi dan segera berangkat ke kantor. Ngomel-ngomel pun tidak ada gunanya lagi.

❤❤❤

Sebuah senja di ujung selatan kota Jakarta. Sorotan cahayanya memasuki celah-celah ruangan berpenghuni hampir sepuluh orang itu. Rapat besar sedang digelar. Ini adalah rapat ketiganya. Lelaki yang selalu berpenampilan rapi itu tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri untuk tidak lelah. Ingin rasanya pulang ke rumah, mengistirahatkan badan sejenak, bertemu dengan orang-orang yang membuatnya semangat kembali. Tapi apalah daya, posisinya sangat dibutuhkan di semua rapat hari ini. Tidak bisa diwakilkan. Bahkan oleh kakaknya sendiri sekalipun.

“Bersabarlah Faris, sebentar lagi rapat selesai,” bisik Adam, sang kakak yang juga bekerja di perusahaannya. Rupanya sedari tadi Adam mengamati kegusaran hati adiknya.

Sebenarnya, tanpa ada yang tahu, ada hal lain yang terus mengganggu pikirannya. Bukan soal banyaknya rapat hari ini. Bukan juga tentang payahnya daya tahan tubuhnya menghadapi masalah-masalah kantor. Masalahnya hanya satu, ia telah melewatkan sebuah kebiasaan yang sudah menjadi seperti ritual dalam kesehariannya, yang juga penyumbang semangat terbesarnya.

Pikirannya terus melayang kemana-mana. Ia sengaja membiarkan bayangan-bayangan orang terkasihnya untuk menjalari setiap inci otaknya. Mengisi setiap sudut yang belum terjamah nama-nama mereka. Sungguh, rasanya tiada guna sama sekali tubuhnya ada di ruang itu.

“Anda setuju?” tanya seseorang bertubuh gempal yang duduk di samping kirinya.

“Pak Faris, apa anda setuju?” tanyanya sekali lagi membuat tubuh CEO muda showroom mobil itu seperti tersengat aliran listrik. Membiarkan kenangannya menguap begitu saja.

Pertanyaan yang tak langsung dijawab seperti biasanya. Faris melirik Adam sesaat. Berharap ia mendapat kode apa yang harus dia katakan. Dengan satu kedipan mata dan anggukan pelan, Adam menjawab.

“Iya. Iya saya setuju. Saya akan atur jadwal rapat kedua untuk menentukan kepastiannya Pak Hamid,” Jawabnya seraya berjabat tangan.

Bingung dan seperti orang bodoh. Itulah Faris saat ini. Entahlah apa saja yang mereka bahas dalam rapat kerja sama kali ini. Tak ada satu pun yang masuk dalam pikirannya. Ia menaruh harapan besar pada Adam yang memberi isyarat untuknya menjawab ‘Iya’, bukanlah kekeliruan.

“Sudahlah Faris. Lebih baik kamu pulang saja. Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Biar urusan kantor aku yang tangani.”

Pria yang memiliki hidung mancung dan mata belok itu memang sangat mengerti Faris. Sejak dulu dan sampai kapan pun.

❤❤❤

“Kenapa Ayah tidak memberikan gambarku kepada Ibu? Apa Ayah sudah tidak menyayangi Ibu lagi? Ayah bilang, kalau aku menggambar untuk Ibu, Ibu akan senang melihatnya.”

Rasa lelah yang mendera, masalah-masalah kantor yang belum sepenuhnya selesai, kesalahan yang ia buat sendiri, seolah semakin menjadi-jadi saat pertanyaan itu ditodongkan kepadanya.

“Ayah. Jawab. Kenapa Ayah diam saja?”

Sungguh, anak ini memang sangat kritis. Jika tidak jujur atau tidak diberi alasan yang masuk akal, ia tidak akan berhenti bertanya sampai mendapatkan jawaban yang pas dihatinya.

Faris mendekap tubuh mungil bocah yang baru saja merayakan hari lahirnya yang ke 6, bulan lalu. Lalu ia mengambil sebuah kertas tak seberapa besar yang masih di tangan si bocah. Ada gambar seorang perempuan yang memiliki sayap sambil membawa tongkat kecil berbentuk hati. Seorang bidadari cantik.

Hatinya semakin perih rasanya. Ada sesak yang tiba-tiba saja memenuhi dadanya. Anak itu sangat cerdas dan polos. Tetapi dari kepolosannya itu, Faris belajar banyak hal. Tentang kasih sayang, cinta, kejujuran dan ketulusan.

“Raja… Dengarkan Ayah. Mana mungkin Ayah tidak menyayangi kalian. Ayah sangat menyayangi kalian. Bahkan lebih dari diri Ayah sendiri. Tapi Ayah kan harus bekerja, sayang. Ayah janji besok Ayah akan bawa gambar Raja untuk Ibu. Tapi sekarang kamu tidur dulu.”

“Janji?” kata Raja yang juga sekaligus gertakan untuknya.

“Janji.”

Ayah dan anak itu saling menyatukan kelingkingnya dalam satu ikatan.

❤❤❤

Ibu lebih dari segalanya bagi seorang anak. Kasih sayangnya setulus hembusan nafas. Tak ada siapa pun yang bisa menggantikan posisinya. Kehadirannya sangat berharga. Lebih berharga dari apa pun di dunia ini.

Raja, bocah enam tahun berambut agak gondrong itu memang beda dari anak-anak lain. Bisa dibilang sangat berani. Bayangkan, di hari pertamanya sekolah, dia sudah berulah. Tetapi bukan karena ia membuat onar karena kenakalannya. Melainkan ia membela diri dari teman-temannya yang terus-terusan mengejeknya. Karena kesal, dia pun tidak mau lagi sekolah di sekolahnya itu.

Dan hari ini adalah hari pertamanya di sekolah baru. Nyonya Ata Alkaf sang nenek sangat berharap cucu satu-satunya itu tidak lagi bertengkar dengan teman-teman baru yang mungkin saja akan mengejeknya lagi.

“Raja. Ini sekolah kamu yang baru. Belajar yang rajin ya sayangku. Nenek dan Tante Icha pulang dulu.”

Ciuman Nyonya Ata dan Aisyah di kening Raja mengakhiri perjumpaan mereka pagi itu.

Raja memasuki ruang kelas dengan penuh percaya diri. Tidak ada sama sekali rasa takut dalam dirinya menghadapi suasana baru. Dia memang pemberani seperti sang Ayah.

“Selamat pagi anak-anak. Nah, hari ini kita kedatangan teman baru.” Sapaan hangat Ibu guru membuat keriuhan yang sebelumnya terjadi mendadak hening. Raja dipersilahkan untuk memperkenalkan dirinya.

“Hai semuanya. Namaku Raja Rafif. Ayahku bernama Salman Alfarisi. Dia punya mobil banyak sekali. Kami tinggal di rumah yang sangat besar dan jauh dari keramaian, karena Ayahku tidak suka hal itu. Dan Ibuku ada di Surga. Ayah bilang dia akan segera kembali dari Surga.”

“Lihat. Dia bilang Ibunya akan segera kembali dari Surga. Mana bisa?!”

“Dia pembohong. Mana bisa orang yang sudah meninggal bisa kembali lagi.”

Satu persatu teman-teman baru Raja saling mengejeknya. Ledekan yang disertai dengan tawa. Lalu apa yang dilakukan Raja? Dia tidak tinggal diam. Dia membela diri. Dia memang berkata jujur apa adanya. Dia mengatakan apa yang selalu dikatakan oleh Ayahnya. Dia tidak berbohong.

“Aku bukan pembohong. Mana mungkin Ayahku berbohong. Ibuku pasti akan kembali.” Ia berbalik mendorong beberapa temannya yang juga mendorongnya. Tapi teman-temannya itu tak berhenti. Mereka terus menertawai kepolosan Raja.

“Anak-anak sudah. Mungkin Raja sedang rindu pada Ibunya. Baiklah sekarang mari kita mulai pelajaran hari ini.”

❤❤❤

Malam ini, mendung sepertinya memenangkan perebutan pesona dengan bintang dan bulan. Segerombolan awan hitam berjajar memayungi rumah besar berlantai dua itu.

Di dalam kamar yang berhiaskan robot dan mobil-mobilan itu tinggal seorang anak lelaki dengan segala mainan yang berserakan. Tetapi dia tidak peduli dengan hal itu. Dia lebih asik menggambar di beberapa kertas. Gambar yang selalu sama. Seorang perempuan cantik bersayap dan membawa tongkat kecil berbentuk hati.

“Raja ayo kita makan malam,” ajak Aisyah yang tentu saja mengagetkan karena kemunculannya yang tiba-tiba.

“Tante Icha. Tapi aku sedang menggambar.”

“Nanti Nenek marah kalau kamu tidak makan.”

Sampai di meja makan, wajah murungnya kembali terpasang. Dia hanya memandangi makanan yang ada di depannya tanpa memakannya sedikit pun.

“Raja. Kenapa tidak mau makan? Apa kamu sakit?” tanya Nenek yang juga sepertinya sedang tak nafsu makan.

“Dimana Ayahku. Aku tidak mau makan sebelum Ayah pulang.”

“Ayahmu sedang bekerja. Dia pasti sudah makan. Ayo cepat habiskan makananmu.” Kata Aisyah.

“Apa Ayah harus bekerja sampai larut setiap hari?”

“Iya.” Jawab Aisyah.

“Kenapa?”

“Semua itu dilakukan agar kamu bisa membeli segalanya. Apa pun yang kamu mau.”

“Aku sudah punya segalanya. Ayah tidak perlu lagi bekerja sampai larut malam.” Raja terdiam sejenak, lalu kembali bertanya, “Apa Ayah bisa melakukan apa pununtukku tante Icha?”

“Tentu saja.”

“Jika Ayah bisa melakukan apa pun untukku, kenapa Ayah tidak bisa membawa Ibuku kembali dari Surga? Teman-temanku setiap hari mengejekku. Mereka bilang Ibuku tidak akan bisa kembali lagi.”

Semuanya terdiam. Tidak ada yang mampu mengeluarkan sepatah kata sekalipun.

❤❤❤

“Ayah, Nenek bilang hari ini Ibu ulang tahun. Cepat bawa aku menemui Ibu, Ayah. Aku ingin memeluknya.” Rengeknya kepada Faris. Dia berpikir mungkin inilah saat yang tepat untuk Raja mengetahui yang sebenarnya. Bahwa Ibunya bukanlah ada di Surga, melainkan di rumah sakit. Dia sedang berjuang untuk bisa kembali bersama-sama lagi.

Tiga tahun yang lalu, saat usia Raja juga tiga tahun, mereka berdua mengalami kecelakaan yang membuat Humaira Angela, Ibu dari Raja, koma selama tiga tahun. Dan selama itu pula Faris menjaga cinta diantara mereka agar terus tumbuh. Raja besar tanpa Ibu disampingnya. Dan Maira, sapaan akrab Humaira Angela, dia melewatkan masa selama tiga tahun itu hanya dengan terbaring lemah di rumah sakit. Itulah mengapa setiap hari Faris selalu membawa gambar Raja untuk di tempel di ruang rumah sakit itu. Tak terhitung lagi banyaknya gambaran Raja yang menghiasi setiap sudut ruangan itu. Setelah itu Faris akan menceritakan semuanya. Apa yang dilakukan Raja setiap hari. Kejadian apa saja yang terjadi hari demi hari. Tanpa mengenal lelah ataupun bosan.

Kembalinya Humaira ditengah-tengah keluarga adalah poin utamanya. Jika saja ia bisa membawa istri tercintanya itu kemanapun ia pergi. Takkan ia biarkan sang istri sendirian di rumah sakit. Tapi itu mustahil terjadi. Selama tiga tahun itu hari-hari Maira bergantung pada alat-alat yang terpasang ditubuhnya.

Tidak ada yang tahu kapan Maira bisa bangun kembali. Dokter bilang, bisa lebih lama lagi, bisa juga dalam waktu dekat. Tidak ada kepastian yang bisa menjamin semua itu.

Dan hari ini, Maira yang cantik, anggun dan bersuara lembut itu sedang berulang tahun yang ke 28. Semuanya akan berkunjung ke rumah sakit. Tetapi kali ini lebih spesial dan istimewa, karena mereka memutuskan untuk membawa Raja menemui dan melihat ibunya untuk pertama kalinya setelah tiga tahun tak bertemu.

“Apa Ibuku akan senang melihatku Ayah?” tanyanya di gendongan sang Ayah dalam perjalanan memasuki ruang rumah sakit.

Faris hanya menjawabnya dengan senyuman. Pikirannya berkecamuk. Apa kira-kira reaksi Raja saat pertama kali melihat Ibunya dalam keadaan seperti itu? Marah, kesal, menangis atau seperti biasanya, bocah kecil itu akan terus bertanya tentang ketidaktahuannya. Ah, rasanya semua prasangka itu terus menghantui setiap langkahnya.

Nyonya Ata membuka pintu perlahan. Yang lain mengikuti dari belakang. Dan saat ada di ruangan itu, Raja bingung. Dia mengamati setiap sudut ruangan. Semua gambarannya terpasang rapi. Lalu pandangannya berganti kepada seseorang yang tak menyadari kehadiran mereka semua.

“Apa ini Ibuku? Kenapa dia tidur? Cepat bangunkan dia Ayah. Aku ingin memberikan gambarku ini padanya.”

Dengan nada terbata-bata karena menahan tangis, Faris menjelaskan bahwa Ibunya sedang koma. Dia tidak bisa melihat kehadiran kita.

Selama hampir satu jam keheningan tercipta. Semua membiarkan Raja dan Faris termenung memandangi Maira. Entah apa yang merasuki pikirannya, tiba-tiba Raja meminta Om Adam untuk mengambilkan sebuah gitar yang selalu ada di mobil sang Ayah. Tanpa pikir panjang Adam pun menuruti kemauannya.

Apa yang akan dilakukannya dengan gitar itu? Apa Maira akan terbangun hanya dengan sebuah gitar? Andai saja mereka tahu apa yang akan terjadi satu detik ke depan. Semua terkaan itu tidak akan ada. Dan ternyata Raja meminta sang Ayah untuk memainkan gitar itu dan mereka bersama-sama bernyanyi sebuah lagu yang menjadi favorit mereka berdua, Boys II Man’.

Saat lagu selesai. Selang beberapa detik. Maira menggerakkan jemarinya. Matanya perlahan membuka. Sungguh keajaiban dari Tuhan yang luar biasa indah. Tuhan memang baik. Dia tahu kapan keindahan itu tiba dalam waktu yang tepat.

 

-Hai, aku Ninik Kinin. Panggil saja aku Kinin. Lahir 23 tahun yang lalu dari rahim seorang ibu yang hebat bernama Risa. Jika kalian mau, kita bisa bercengkerama di Instagram (@queenin_ atau @officialkinin)

Atau jika kalian ingin membaca ceritaku yang lain bisa bertemu di wattpadku @queenin99. Terima kasih.-

 

 

Silahkan like & bagikan ke media sosial kesayangan anda

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Beritahu saya