Cerpen cahaya kerinduan bagian pertama

Cahaya Kerinduan

(bagian 1)

Bulan desember telah datang. Hampir setengah dari usianya menyapa dengan jutaan kisah menawan. Bahkan saudara-saudaranya pun melakukan hal yang sama begitu hangat. Namun, Gibran masih tak mampu melihatnya sebagai salam cinta yang menjanjikan kebahagiaan. Dia masih setia pada saudara desember kesepuluh. Bulan yang menyisakan kenangan tak mampu terlepas dalam benak hatinya. Padahal, dua kali dari usia desember telah menyapa dalam masehi hidupnya. Namun, tak sekalipun di tiap pergantian gelap dan terang, sanggup mengusir saudara desember kesepuluh. Bulan yang begitu menorehkan kenangan mempesona. Meskipun telah hilang tawaran kebahagiaan didalamnya. Namun, rasanya ia begitu buta untuk melihat tawaran kebahagiaan lainnya.

Oktober adalah saudara kesepuluh desember. Bulan yang didalamnya tercatat satu hari special. Mengalunkan lagu ditiap tahunnya. Dirayakan dengan kue manis. Nyala lilin, dan doa terindah. Gibran masih tak mampu beranjak dari pemiik hari itu. Seorang gadis berkerudung, tampak anggun dengan senyum manis yang semakin menambah sempurna kecantikannya.

“Kau tahu wahai desember? Aku menapakimu saat ini bukanlah pilihanku. Tapi memang garis masehi yang harus ku lalui untuk tetap hidup. Maafkan aku yang sampai sekarang tak mampu melihatmu. Meski kau dan saudara-saudaramu telah tawarkan berjuta kebahagiaan. Sekiranya engkau memperbolehkanku. Lewat deburan ombak yang menghantam batu karang. Lewat desiran angin yang saat ini menyusuri setiap pori-pori kulitku. Aku ingin titip salam untuknya. Salam lewat lembaran kertas lusuh yang penuh dengan goresan tinta kerinduan. Untuk seseorang penghuni saudaramu kesepuluh dalam kehidupan masehiku.” Gumam Gibran dalam kesendiriannya.

 

Assalammu’alaikum wahai bidadari hatiku

Bagaimanakah kabarmu, setelah dua kali namamu dinyanyikan karena usiamu yang semakin bertambah matang?

Semoga kamu bersama keluarga tersayang, sehat selalu dan diberi rahmat oleh Allah SWT.

Dan semoga kamu bahagia, seperti aku yang selalu bahagia untuk menanti kedatanganmu menyambut lembut cintaku.

Kau tahu wahai bidadari hatiku? Dalam keramaian yang setiap siang ku rasakan. Dalam keheningan yang setiap malam ku dapati. Aku masih membayangkan kamu menyambutku dengan kedua tanganmu yang lembut. Menyambut kedua tanganku yang telah lama menantimu. Bahkan tak jarang aku membayangkan kita sudah menjadi pasangan suami istri. Bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Menjalankan shalat subuh berjamaah. Dan apabila mentari telah terbit. Kau membuatkan nasi goreng kesukaanku dengan segelas teh hangat yang kau hidangkan sebelum aku berangkat kerja.

Sampai sekarang pun, suaramu masih ku ingat. Dan selalu ku bayangkan percakapan kita. Saat kau berkata padaku dengan manjanya. Ketika kita duduk diteras berdua sambil menikmati dinginya malam. Ditemani dengan dua gelas teh hangat yang kau tambahi dengan satu sendok madu. Juga dengan sepiring kacang almond. Sebagai ciri khas hidangan santai kesukaan kita.

 

“Teh buatanmu ini memang sangat nikmat sayang. Rasanya sangat lengkap dengan hidangan kacang almond. Aku ingin setiap malam kau membuat teh spesial ini untukku.”

“hehe iya sayang, selalu. Sayang jika aku sudah tua nanti. Apa kamu masih akan tetap mencintaiku, seperti saat ini? Apa kamu juga tidak malu menemaniku jalan-jalan? Padahal saat itu, pasti aku sudah beruban. Sudah tak secantik saat ini.. Bahkan mungkin berdiri pun tidak tegak. Sayang aku takut seperti orang-orang pada jaman ini. Ketika tua, mereka sudah kehilangan keromantisannya. Seakan mereka hidup dan menikah hanya untuk masa muda. Sedangkan masa tuanya hanya seperti menunggu ajal menjemputnya. Aku takut sayang. Aku takut tua dan akhirnya kamu meninggalkanku sendirian.”

“Sayang lihatlah mataku ini! Ini adalah mata yang sudah siap menerimamu apa adanya. Siap untuk menerimamu menjadi tua, beruban dan jelek. Bahkan siap untuk nanti hanya makan sepiring nasi setiap harinya. Sayang, kamu tahu kenapa orang-orang itu bila tua sudah tidak romantis lagi?”

“Ya karena sudah beruban, keriput dan jelek lah sayang . Bagaimana sih, begitu saja ditanyakan.”

“Bukan karena itu sayang.”

“Lalu kenapa?”

“Karena istri mereka bukan kamu sayang. Jika istri mereka Dinda. Pasti mereka akan senyum setiap hari melihat istrinya yang cantik dan sangat penyayang. Apalagi jika sudah tua, rambutnya beruban. Pasti tambah lucu dan imut seperti bule-bule yang datang ke negeri kita tercinta. Sudahlah sayang, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kekhawatiran yang kamu bayangkan, hanya akan membuat hari-hari bahagiamu terselimuti dengan ketakutan. Lebih baik kita nikmati waktu muda ini. Kita nikmati sambil menunggu masa tua. Dimana saat itu disekeliling kita sudah ada anak-anak kita yang ganteng seperti aku, dan cantik seperti kamu. Dan merekalah yang akan menambah lengkap kebahagiaan kita.”

 

Begitu indah lamunanku untuk kita, Dinda. Sampai-sampai terkadang aku lupa, kalau kau sudah tak bersamaku lagi. Aku masih tak tahu kenapa kau meninggalkanku. Bukankah jika aku salah. Kau bisa bilang kepadaku seperti hari-hari kita sebelumnya. Ketika kita berkelahi bagaikan kucing yang merebutkan ikan asin. Dan setelah itu kita berdamai, layaknya sepasang merpati penuh kasih. Tapi engkau malah hanya meninggalkan selembar kertas. Sampai sekarang pun aku tak mengerti apa maksud “aku sangat mencintaimu, tapi kenyataan harus memaksaku untuk meninggalkanmu. Aku mohon kau mengerti. Maafkan aku”. Pada pesan yang kau tulis di lembaran kertas itu. Lalu apa yang harus ku mengerti dari semua ini? Sama sekali aku tak akan memaafkanmu karena hal ini. Jika kau kembali aku tak akan melepaskanmu. Aku akan menghukummu dengan seribu kali pelukan kerinduan atas kesalahan fatalmu ini. Sungguh ku sangat merindukanmu, Dinda.

Gibran masih bergumam dalam kesendirianya yang duduk di tebing batu karang. Sambil menulis surat kerinduan untuk dinda. Kekasihnya yang telah lama menghilang. Kini sepucuk surat atas nama kerinduan itupun telah selesai ditulisnya. Dengan penuh perasaan ia mengalunkan penanya untuk mengukir rasa dilembaran kertas ditangannya itu. Hingga tanpa ia sadari. Sudah ada seorang gadis cantik, yang berdiri dibelakangnya dengan mata berkaca-kaca.

“Da da da dari kapan kau disini Aya?” Dengan terbata-bata Gibran bertanya.

“Mungkin lima menit yang lalu Gibran. Melihatmu duduk disini sendirian yang terus bergumam tentang Dinda. Kenapa kau tak gabung dengan lainnya. Berfoto bersama menikmati liburan di pantai kejayaan ini?” aya pun ikut duduk disampingnya.

“Maafkan aku aya, aku tak bermaksud menyendiri. Hanya saja.” belum selesai Gibran bicara, Aya langsung memenggal perkataannya.

“Hanya saja kau teringat dengan dinda? Kekasihmu yang kau cintai tapi meninggalkanmu begitu saja?

Gibran tak mampu menjawabnya, ia hanya tertunduk lemah.

“Sudahlah tak usah kau jawab, aku tahu sampai saat ini kau masih belum bisa melupakannya.” penggal aya

“Huft… Baiklah, ayo kesana” Gibran pun bangkit dan langsung berjalan menuju teman lainnya, tanpa menunggu aya.

“Tunggu Gibran, apa kau akan menghampiri mereka dengan suasana hati yang seperti itu? Kau kesana bukan malah manambah kebahagiaan mereka, kau hanya akan membuat mereka kehilangan kebahagiaanya ditempat ini. Apa kau tak ingin membagi sedikit senyummu, sedikit kebahagiaanmu bersama kami? Sudahlah Gibran, lupakan dia.

“Aya, kebahagiaanku telah habis bersama perginya dinda. Kebahagiaan itu akan hadir kembali jika ia telah datang. Asalkan kamu tahu, mungkin banyak gadis cantik didunia ini yang lebih darinya, tapi bagiku dialah yang terbaik. Ysatu-satunya orang yang bisa membuatku sekuat baja, dan selemah kapas.” Jawabnya, sambil membalikan badan menghadap aya

 

Tanpa sengaja, ia melihat kertas yang terapung bersama ombak dan angin yang daritadi menemaninya. Dalam pikirnya itu adalah surat yang ia tulis tadi. Seakan ombak dan angin juga mendukung Aya, untuk membuang segala ingatannya tentang dinda. Sekejap air matanya menetes. Melihat goresan tangan yang ia impikan untuk diberikan pada gadis yang sangat ia sayangi.

Aya pun menyadari Gibran meneteskan air matanya. Melihat apa yang dilihat oleh Gibran.

“Gibran, apa itu? apakah itu surat yang kau tulis untuknya? Berarti dari tadi kau disini, menyendiri dan meninggalkan kami. Hanya untuk menuliskan surat pada dindamu yang masih kau impikan? Gibran sadarlah! Apakah kau buta dengan kenyataan ini? Dia telah meninggalkanmu. Bahkan sampai sekarang dia tak pernah memberi kabar padamu. Apakah hatimu sudah buta? Sudah tak bisa lagi kau buka untuk orang lainnya? atau jika memang tidak. jika memang kau tak mampu melupakannya. Bahkan menghapus kenanganmu bersamanya. Minimal jangan kau jadikan ia impianmu lagi. Ikhlaskanlah dia bersama kehidupannya. Gibran, aku tahu dan semua temanmu tahu. Bahwa cintamu bukanlah seperti pelangi yang meskipun sangat indah, ia hanya hadir sesaat. Kami semua tahu cintamu seperti mentari, yang bila pagi menyinari, dan bila malam datang, ia masih menitipkan cahayanya lewat pantulan bulan. Gibran, sadarlah! kau bukan orang buta. Hatimu juga tidak buta. melainkan sangat indah sebagai seorang insan yang tulus mencinta. semangatlah untuk hari esok. Dimana ada seseorang yang menyambut tanganmu. Untuk menikmati indahnya kebersamaan. Berbagi tangisan dan tawa dalam penghabisan hari untuk menuju kehidupan yang kekal selanjutnya.”

Hening memecah suara ombak yang menggulung menghantam batu karang dengan ganasnya. Hanya lelehan air mata serta jawaban yang bercampur isak tangis, haru dan sedih menghujani suasana hati yang buta akan sebuah penantian panjang.

“aya, aku tak tahu. ntah aku telah buta atau telah mati rasa. Namun, kenyataannya aku masih sangat mencintainya. Sampai sekarang pun mimpiku masih untuk hidup bersamanya. Membina keluaga bersamanya. Menghabiskan masa tua, dan hidup bersamanya pada kehidupan selanjutnya.” ia pun duduk kembali dengan membusungkan dadanya dan seraya menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Dalam hatinya ia berkata.

“Ya Allah, apakah memang aku buta? buta akan sebuah cinta kepada ciptaanMu yang sungguh luar biasa menawannya. Ya Allah, jika memang iya. Maafkanlah aku, yang lupa bahwa kaulah penulis pasanganku. Penentu jodoh dari sebelum Kau ciptakan aku. Maafkan aku, yang tak kuasa berjalan untuk menyambut nikmatmu lainnya. Maafkan mata dan hati yang tak sanggup melihat ciptaan indahMu lainnya. Ciptaan yang juga begitu mempesona. Mungkin aku memang buta ya Allah. Maafkan aku yang buta. Hingga setiap masehi yang kau hadirkan untukku. Hanya lewat layaknya angin yang tak ku sadari pembawa oksigen sebagai nafas hidupku. Maafkan aku.”

Tangannya basah. Di sela jemarinya, terjatuh air ketulusan yang menetes dari kelopak mata, hingga terjatuh membasahi karang persinggahannya.

 

Oleh: PecanduKata

 

Baca lanjutanya: Cerpen Cahaya Kerinduan bagian ke-2

Seberapa suka anda dengan artikel ini?
Sending
User Review
0 (0 votes)
Silahkan like & bagikan ke media sosial kesayangan anda

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Beritahu saya
Navigate