>> Survey Berhadiah <<Download & Install Disini

Cerpen Cahaya Kerinduan bagian kedua

Cerpen Cahaya Kerinduan bagian kedua

Cahaya Kerinduan

(bagian 2)

Hanya isak tangis yang ia tahan dan tetesan air mata yang semakin lama semakin hilang. Ia terdiam begitu lama. Menatap langit yang seakan melihat harapan baru. Harapan yang penuh dengan impian manis masa depan.

Sedangkan aya, hanya mampu meneteskan airmata karena haru. Ingin sekali ia mendekap erat. Mengusap lembut air mata Gibran. Seseorang yang telah lama ia cintai. Tanpa pernah ia ungkapkan pada siapapun. Dan saat ini ia hanya mampu mendengarkan rintihan orang yang ia sayangi. Orang yang mungkin mulai sadar dengan sebuah penantian panjangnya.

“Selamat tinggal kenangan. Kamu memang indah. Namun, masa depanku juga akan tercipta sangat indah melebihimu. Sampai jumpa diranting kehidupan berbeda dalam pohon kehidupan yang sama Dinda” Dalam gumamnya

 

Dan sesaat kemudian. Ia menoleh pada seseorang yang menyadarkannya. Dialah gadis cantik dengan paras menawan. Gadis yang mempunyai sorot mata indah, bagaikan bintang kala malam. Namun yang terlihat dihadapannya, bukanlah aya yang biasanya. Bukanlah aya yang mempunyai sorot mata indah, yang mampu membuat semua laki-laki terpana ketika melihatnya. Ia hanya melihat seorang gadis dengan mata sayu. Tampak penuh haru, dengan genangan air mata dikelopaknya yang siap menghujan.

Gibran tak pernah tahu. Kalau air mata aya itu, sebenarnya adalah karena kesedihan yang begitu dalam. tentang sebuah rasa cinta yang tak mampu diungkapkan.

“Terimakasih Aya. Aku tak tahu, cinta seperti apa yang membuatku seperti ini. Rasanya begitu luar biasa hingga aku lupa segalannya.”

“Aku adalah sahabatmu Gibran. Tak usah kau ucap kata terimakasih itu. jika aku bisa aku akan selalu membantumu, apapun itu.”

Dalam hatinya aya berkata. Bahwa, sebenarnya ia ingin dianggap lebih dari seorang sahabat. Yaitu sebagai seseorang yang ia percaya, untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun, jangankan Gibran akan menanggapi ungkapan hatinya. Melihatnya lebih pun tak pernah.

 

Suasana haru kini telah mulai hilang. Terhantam oleh ombak semangat masa depan. Hening telah berganti nuansa ceria. Kala tangan seorang pecinta dalam diam. Telah menarik untuk mengabadikan saat-saat indah, ditempat yang menjadi kenangan. Kenangan yang nantinya akan dicetak, dalam lembaran kertas halus dan dibingkai dalam ukiran kayu kotak.

 

Sesaat kemudian, suara lantang telah memecah suara ombak juga lamunan Gibran dan keharuan aya.

“Hay Pantai Kejayaan! Kami disini untuk berjaya dimasa depan dengan cita-cita mulia. Atas ridho Allah yang begitu besar. Jadilah salah satu tempat, yang akan selalu mengingatkan kami untuk hidup sederhana.” Teriak salah satu temannya, dan di ikuti lainnya.

Genggaman tangan mereka yang saling terikat, adalah wujud semangat, yang nantinya akan mengingatkan, bahwa mereka akan sukses bersama. Meskipun pada jalan yang berbeda. Namun, pada ujung yang sama yaitu kesuksesan dan kebahagiaan.

Dalam hati Gibran pun menyuarakan doa khususnya.

Selamat tinggal diriku yang buta dan selamat datang diriku yang penuh semangat.”

 

Sembilan bulan telah berlalu. Kini giliran September sebagai teman desember yang menyapa. Berjuta kisah baru untuk setiap insan yang bernyawa telah tercipta. Khususnya bagi Gibran, yang harinya sangat berbeda dari sembilan bulan sebelumnya.

Gibran kini tak lagi sesosok laki-laki yang sering menyendiri. melamunkan kekasihnya yang telah menghilang layaknya ditelan bumi. Kini ia bagaikan pemuda bernilai emas. Namanya tak hanya terpampang pada KTP dan ijazah ataupun lembaran pribadi lainnya. Kini namanya bagaikan kicauan burung. Bila salah seorang dengar namanya, akan saling bersahutan untuk terus membicarakannya.

Saat ini ia telah menjadi pemuda dengan pencapaian luar biasa. Diumurnya yang masih 26 tahun. Ia lulus dari S2 dengan prestasi luar biasa. Ia masuk dalam deretan nilai terbaik, di kampus yang didambakan setiap orang. Tak hanya itu, ia pun kini diterima sebagai Dosen disalah satu kampus ternama dikotanya. Bahkan seringkali ia memberikan workshop untuk kalangan mahasiswa dan umum. Karena selain menjadi dosen, ia juga sukses dalam bidangnya yaitu sebagai Master bisnis marketing. Namanya pun seringkali menghiasi media massa karena pencapaian dan ketekunannya.

 

Matahari telah menyingsing. Panas masih setia pada siang yang semakin menyengat kulit. Gibran berjalan memasuki gedung dalam acara workshop. Penampilannya yang sangat elegan dengan jas abu-abu, ia padukan dengan dasi merah bergaris, juga celana hitam dan sepatu fantopel. Penampilannya semakin menambah wibawanya. Setiap orang yang dilalui seakan sudah mengidamkan untuk bertemu. Setiap tangan pun menyambutnya dengan hangat sambil mengucapkan selamat datang.

Workshop telah selesai. Ia berniat langsung ke kantornya untuk mengecek laporan penjualan hari ini, lalu pulang dan mengistirahatkan badannya yang sangat lelah.

Tampak seorang gadis cantik, yang memakai kerudung merah muda, datang menghampirinya sesaat sebelum ia sampai di mobilnya.

“Maaf Pak, boleh minta tanda tangan dan foto bersama?”

Gibran seakan mengenali suara itu. Seperti suara gadis cantik, yang telah lama ia rindukan kedatangannya. Ia pun menoleh untuk memastikannya.

“Din da.”

“Boleh minta tanda tangannya pak?” goda Dinda.

“Dinda kau.”

“Iya Gibran. Maafkan aku, jika kedatanganku membuatmu kaget. Maaf karena aku tak pernah mengabarimu. Aku tahu kata maaf saja tak akan mampu menggantikan semuanya. Gibran, ada yang ingin kusampaikan. Ada waktu luangkah kamu nanti malam, untuk makan bersama?”

Gibran terdiam sejenak. Memandangi wajah yang telah lama ia impikan. Wajah yang menenggelamkan kenangan bertahun-tahun lamanya. Ingin sekali ia memeluknya. Namun, rasanya canggung karena sudah lama tak bertemu. Sambil mengatur nafasnya agar sedikit tenang ia berkata.

“Nanti malam ya, kebetulan nanti malam aku tak bisa dinda. Bisakah diganti besok? Ketika makan siang?

“Baiklah. Besok waktu makan siang ya, di café yang biasa dulu kita tempati.”

“ya dinda. Siap” haru bercampur bahagia, menyelimuti hati Gibran. Hingga suara “sampai jumpa” dari Dinda pun tak ia dengar.

 

Malam yang dingin. Bulan dan bintang enggan menampakan cahayanya. Seakan tak ingin bersaing dengan cahaya kebahagiaan Gibran dan senyum yang menghiasi seluruh ruangan kamar.

Terlihat, tetesan demi tetesan jatuh pada balik jendela Gibran. Semakin banyak dan semakin keras suaranya mengantam atap-atap rumah. Suara gemercik air mulai mengalir pada ujung atap. Terjun ketanah, yang biasanya sebagai langganan sengatan terik matahari. Hujan pertama dimusim ini. Pertanda musim kemarau panjang telah berganti. Layaknya kehidupan Gibran yang menemukan senyumnya kembali.

Hampir sepertiga malam. Gibran masih belum bisa tertidur. Terbayang wajah dan senyum yang lama ia rindukan. Tak sabar siang hari datang, lalu bertemu dengan Dinda, untuk makan bersama seperti tahun-tahun sebelumnya.

 

Siang telah menyapa. Jarum jam sudah berdiri tegak. Ia melaju mobilnya ke cafe. Tempat kenangan bertahun-tahun yang telah lama tak pernah ia kunjungi. Namun saat ini, seakan kenyataan berganti. Menyuruhnya untuk menghidupkan kenangan, menjadi sebuah impian masa depan.

“Sudah lama sampai Dinda?. Maaf aku telat.” senyum merekah masih menghiasi wajahnya, terlihat suasana hati yang sangat bahagia.

“Ah tidak. Kamu tepat waktu. Hanya saja, aku yang terlau cepat kesini. Karena aku tak sabar ingin menikmati suasana yang dulu pernah kita lalui.”

Gibran sangat gembira. Suara hatinya pun menduga hebat “Apakah ia ingin bersama lagi denganku? Menghidupkan kenangan dan meniti masa depan bersama? Mewujudkan mimpi-mimpi kami yang sempat tertunda?”

 

Dua jam telah berlalu. Sepasang merpati penuh kasih itu seakan tak mau pisah. Dua porsi roti bakar coklat. Dua gelas teh hangat yang dicampur madu. Sepiring kacang almond. Semuanya telah habis tak tersisa dimeja. Lambaian tangan tanda ucapan sampai bertemu lagi pun mengayun pada tangan kanan mereka. Guratan senyum masih terlihat pada kedua bibir mereka. Rona wajah begitu bahagia karena kerinduan yang terbalas.

Kini, malam kembali menemani Gibran. Sengaja hari ini Ia meliburkan diri pada kesibukannya. Pada bisnis yang tiap hari ia tekuni. Ia meliburkan diri juga pada jadwal-jadwal pertemuan yang masih bisa diundur dihari berikutnya. Ia ingin menghabiskan malam dengan mengenang pertemuannya dengan Dinda. Namun, malam ini tak lagi sama dengan kemarin yang dingin dihiasi rintikan hujan. Malam ini cahaya bulan dan bintang memancar bagaikan cahaya kemenangan tentang sebuah penantian panjang.

Sebenarnya, Ia tak ingin menyudahi ingatannya dihari itu. Tapi rasa lelah memaksa matanya tertutup. Ia terlelap begitu pulas, hingga tak menyadari bahwa ponselnya berdering tiga kali.

“Pyak”

Gibran tersentak kaget, hingga terbangun dari tidurnya. Ia pun menyalakan lampu. Mengecek apa yang terjadi. Ternyata ada gelas pecah dibawah meja. Dia menduga. mungkin itu ulah kucing yang biasanya kerjar-kejaran. Ia pun kembali ketempat tidur, setelah membereskan pecahan gelas tadi.

Matanya kali ini tak bisa terpejam. Rasa ngantuknya telah hilang karena suara gelas pecah. Ia melihat ponselnya. Ada tiga panggilan masuk tak terjawab dari dinda. Seharusnya ia sangat senang. Tapi ntah mengapa ia hanya merasa biasa. Tak merasakan lagi, seperti yang ia rasakan sebelum tertidur. Seperti ketika di cafe. Seperti sebelum makan siang dengannya. Atau seperti setelah pertemuannya ditempat parker workshop. Perasaan itu tak ada lagi. Kerinduan yang mendera hatinya kini seakan telah hilang. Ia heran dengan suasana hatinya. Ia termenung. Hati dan pikirannya tak senada lagi. Bergelut pada seperti malam yang sunyi.

Ia teringat pada ucapan sahabatnya, “jika kau ingin menentukan pilihan pada suatu hal. Sedangkan kau bimbang. Maka shalatlah pada sepertiga malam. Minta petunjuk pada Allah untuk menentukan pilihanmu” ucapan aya itu masih terngiang jelas dikedua telinganya. Ia pun mengambil wudlu dan shalat. Mengahadap Allah yang senantiasa menjadi petunjuknya selama ini.

 

Pagi terasa begitu sejuk untuk Gibran. Genangan air tak lagi terlihat seperti sehari sebelumnya. Indah cahaya mentari yang masih sedikit tertutup oleh dedaunan pohon bambu disamping rumahnya. Ia bergegas mengambil ponselnya. Ia coba kirim pesan ucapan selamat pagi kepada dinda. Dan dibalas, “selamat pagi juga Gibran, sudah minum teh kesukaanmu pagi ini?” lagi-lagi tak ada rasa. Ntah kenapa pertanyaan itu sudah tak lagi membuatnya merasa special. Ia merasa biasa, layaknya balasan ucapan selamat pagi lainnya.

Dua hari telah berlalu. Perasaan rindu dan bahagia yang Gibran rasakan telah benar-benar hilang. Seakan perasaan itu, hanya ingin bertemu sebagai ucapan perpisahan atas nama kenangan.

Gibran mencari nama lain dalam kontak ponselnya untuk ia kirimi pesan berikutnya.

“Assalammu’alaikum aya, nanti malam ada waktu untuk minum teh sejenak?”

“Wa’alaikum salam Gibran. Iya bisa, dimana dan jam berapa?

“Di cafe dekat rumahmu saja, jam 7.30”

‘Ok. Sampai bertemu nanti malam”

Dalam pikirnya, Aya menebak bahwa Gibran sudah bertemu dengan Dinda. dan saat ini mereka sudah kembali menjadi pasangan kekasih seperti dulu.

 

Di samping meja yang tersaji dua gelas teh hangat. Mereka duduk berhadapan. Sekilas seperti sepasang kekasih yang menyatukan kerinduan.

“Gimana, apa yang membuatmu ingin minum teh bersamaku?” basa basi aya membuka percakapan.

“O iya, langsung saja ya aya.” ia tersenyum sambil meneruskan perkataannya.

“Gini, pertama aku ucapkan banyak terimaksih kepadamu. Tiga hari yang lalu, aku bertemu Dinda. Ia menceritakan semuanya tentang perjuanganmu mencarinya untuk menyampaikan suratku. Surat yang aku kira hanyut dilaut, ketika liburan dipantai kejayaan dulu. Ternyata kau diam-diam mengambilnya dan menghanyutkan kertas lainnya. Tak hanya itu dia juga cerita tentang perasanmu padaku. Aku sempat kaget karena tak menyadari hal itu. Jadi maafkan aku Aya, karena selama ini aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku.

“Iya maaf Gibran, aku..” belum selesai ia menanggapi.

“Tidak aya, tak usah kau minta maaf. Itu perasaan tulusmu. Aku malah sangat berterimakasih atas perjuanganmu. Kau mencintaiku, tapi kau rela mencari Dinda untukku. Hingga ia kini datang padaku. Mengobati kerinduanku yang telah lama menunggu.”

“Itu berarti, kini kau sudah bersama dinda lagi?”

“Huft. Cinta itu susah dimengerti aya. Dulu aku bilang kebahagiaanku hilang bersama dinda. Dan akan kembali lagi, kalau ia sudah datang kepadaku. Namun, sebelum ia kembali padaku. Rasanya kebahagiaan itu telah ada. Disaat ia kembali, ntah mengapa yang aku rasakan hanya seperti pelangi yang indah sesaat. Kerinduanku seakan hanya untuk bertemu dan menyudahi kisah kami. Mungkin rasa cintaku padanya telah habis termakan waktu, termakan rasa ikhlas dihari-hari sebelumnya.”

“Lalu, maksudmu Gibran?”

“Aya, sekali lagi maafkan aku. Aku tak tahu jika kamu selama ini memendam rasa padaku. Ingin ku pilih kau sebagai kekasihku. Cintamu tulus. Hatimu yang begitu baik dan penuh kasih sayang. Bahkan kamu pun rela berkorban mencari dinda, hanya untuk menjawab kerinduanku. Kerinduan orang bodoh yang tak peka dengan perasaan wanita spesial sepertimu. Ingin rasanya ku memilihmu. Jika yang berperan dalam sebuah cinta adalah otak dan pikiranku. Tetapi maafkan aku aya, karena aku tak mampu jatuh cinta padamu. Aku hanya mampu merasakan bahwa kaulah sahabat terbaiku.

 

Suasana haru kembali menyelimuti keduanya. Sambil menahan air mata dan memaksa tersenyum, Aya mengucapkan rasa bangga bisa mencintai orang seperti Gibran. Orang yang benar-benar pantas dicintai. Meskipun harus berakhir dengan sebuah hubungan sahabat yang sebenarnya tak pernah ia inginkan. Dia sadar mungkin cinta itu hadir bukan untuk sebuah hubungan kepemilikan. Melainkan cobaan bagi hamba Allah, untuk melatih keikhlasan dan bertambahnya kesabaran.

Kini aya bagaikan hidup kembali dengan suasana baru layaknya Gibran pada bulan desember lalu. Sama seperti Gibran. Ia juga memilih kesendiriannya. Hingga sang Maha Pencipta, hadirkan cinta dalam hatinya. Dipertemukan dengan jodohnya dalam perjuangannya memperbaiki diri.

Dalam sebuah diarinya ia menuliskan.

“Dinda, kamu adalah kenangan, yang bertengger pada barisan kenangan terindah dalam kenangan hidupku. Aku sangat menghormatimu sebagai kisah masa lalu, yang begitu mendewasakanku. Membuatku mengerti bahwa cinta adalah tulus member. Meskipun berujung pada sebuah akhir tanpa kebersamaan. Namun, cinta tetaplah cinta. Ia akan membawa senyuman atas nama kebahagiaan. Ntah itu bersama, ataupun dalam kesendiriran. Terimakasih untuk kebahagiaan itu. Terimakasih untuk sepenggal masa lalu dalam cerita hidupku.”

 

 

Baca: Cerpen Cahaya Kerinduan bagian pertama

 

oleh: PecanduKata

Seberapa suka anda dengan artikel ini?
Sending
User Review
0 (0 votes)
Silahkan like & bagikan ke media sosial kesayangan anda

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Beritahu saya