Buku/Novel OriginalNyari buku yang oke? Beli aja di OkeBuku

Sapalah aku jika kau lupa bahwa kau sudah tak mengingatku

Sapalah aku jika kau lupa bahwa kau sudah tak mengingatku.

(oleh Mr Eko)

 

Aku memilih jalan untuk menjadi seorang penulis, hingga apapun kutulis dengan segala kepekaan yang aku rasakan.

Namun bagi sebagian orang, mereka mengira semua yang aku tulis adalah curhatan kisah pribadiku. Ntah itu yang buruk atau hal baik dari goresan tinta tangan kananku. Padahal semua itu hanyalah gayaku untuk melahirkan sebuah cerita. Tentang kisah-kisah yang kulihat, kudengar, dan kurasakan.

Pada suatu hari, temanku atau mungkin lebih bisa dibilang sebagai seorang sahabat karena sangat dekatnya. Saat itu, seakan aku merasakan dia mulai melihatkan rasa rindunya kepadaku. Disaat yang sama aku juga merasakan perasaan itu terhadapnya. Hanya saja aku masih tak tahu, apa rasa itu, ntah itu cinta, kerinduan, atau hanya kekaguman karena dia begitu bernilai spesial.

Dan dikemudian hari, saat yang kuragukan itu berganti menjadi rasa hati yang berwarna merah. Aku mulai berjalan sedikit untuk mulai menjemput kebersamaan. Salah satunya dengan menulis ungkapan bahwa aku telah kehilangan keraguan atas perasaanku kemarin. Dan dia mengetahui yang kutulis tersebut, lalu kami mulai bersahutan, menceritakan kesibukan dan kelelahan yang diakibatkannya.

Esok hari telah tiba, ntah malam seperti apa, atau mimpi mengerikan yang seperti apa, hingga ia berubah tak lagi senada dengan senyumnya kemarin hari. Semua yang ia rasakan berubah, seakan ingin menghapus segala hal yang sempat terasakan. Bahkan hingga persahabatan kami pun terlupakan pula. Aku masih tak tahu apa yang membuatnya seperti itu, mungkin karena ia mencintaiku, atau hal terburuknya adalah karena dia tidak ingin kucintai. Hingga kebersamaan yang baru kemarin kami rasakan dari kejauhan, kini menghilang seperti jarak kami yang lama tak saling berjumpa.

Mungkin saja dia telah membaca berbagai cerita yang kugoreskan pada lembaran-lembaran daun yang telah berguguran. Hingga ia mengganggap semua itu terjadi dari kisah hidupku yang pernah kulalui sebelumnya. Atau lebih parahnya ia menganggap cerita itu yang kualami saat ini. Dan ketika ia mulai memilih jalan berdekatan searah dengan diriku, ia mulai ragu tentang diriku yang sudah dikenalnya bertahun-tahun lamanya. benar-benar menyedihkan ketika seseorang, bahkan yang sudah hafal kepribadianku. Ia memilih lupa tentang siapa diriku. Ia menghindar seakan takut kujadikan kisah selanjutnya dengan paksa.

Sampai saat ini aku tak tahu perihal apa yang harus kulakukan. Ingin aku menanyakan tentang hal itu padanya. Tapi bagaimana bisa jika ia tak pernah lagi menanggapi ocehan yang terlontar dari mulutku. Jangankan bertemu untuk sekedar bertatap muka, dan pergi meninggalkan tempat duduk, juga minuman yang terhidangkan dalam perbincangan kami. Dari pesan yang kukirim melalui smartphone saja, hanya dibaca dan ia tinggalkan layaknya membaca koran yang berisi berita membosankan.

Untukmu, jika nanti waktu mempertemukan kita, atau kau telah sadar untuk tidak membiarkan koran yang setiap hari kau acuhkan. Aku ingin titip pesan pada orang yang kucintai, pada orang yang sudah lama kukenal sebagai sahabat terbaik, yang kuanggap sebagai orang yang paling mengerti aku selain diriku sendiri, dan orang itu adalah kamu.

Mungkin semua ini karena kesalahpahamanmu terhadapku. Sebenarnya aku tetap orang yang dulu kau kenal. Meski lebih dari setengah yang kulakukan adalah hal-hal baru yang belum pernah kamu lihat. Mungkin benar kata orang, jika hati yang terhubung karena sebuah cinta, hati itu bisa merasakan apapun yang tak terucap. Jadi jangan khawatir kalau aku sampai tergores luka. Bagiku semua ini adalah anugrah dari Tuhan, yang datang tanpa kuminta. Aku disini hanya melaksanakan amanah dari anugrah tersebut dalam sebuah usaha, menuruti rasa yang terlahir dari hati yang berisikan kerinduan. Jadi bukan sekedar kehendak biasa yang suatu saat akan kutinggalkan untuk menjadi kenangan yang mengharukan.

Tenanglah, tenangkanlah hatimu yang sempat memeluk kerinduan untuk diriku. Tetaplah seperti dulu ketika kita masih saling bercanda. Berjalanlah dijalan yang kau inginkan tanpa keraguan. Pergilah ketempat yang ingin kau tuju dengan segenap senyuman. Dan jadikanlah hal ini salah satu dari warna kehidupan, yang akan kau ingat dikala kau terbangun dari tidur siangmu. Aku hanya bisa mendoakan sebagaimana doaku sebelumnya untuk diriku dan dirimu. Bahwa apapun yang akan terjadi dari setiap hal, yang diakibatkan oleh anugrah yang mendarat kedalam hatiku ini, semua akan berdampak baik untukmu, dan untukku pula.

Ketahuilah, aku akan baik-baik saja. Tak perlu kau khawatir seperti itu. Sekali lagi jangan kau khawatirkan aku. Bukankah selama ini belum ada orang yang mampu membuatku kehilangan senyuman. Dan kau tahu perihal semua itu.

Memang dalam kenyataanya aku kecewa padamu. Bukan sebagai orang yang mencintaimu, tetapi sebagai sahabat yang sudah lama saling mengenal dari hati. Sahabat yang pernah saling bertukar cerita tentang masa lalu dan impian masa depan.

Jika suatu saat kau lupa bahwa kau telah melupakanku, sapalah aku meski sejenak, saat kau tak menyadari bahwa yang menyapa adalah dirimu yang sudah tak mengingatku.

 

 

Punya cerpen?

Kirimkan cerpen terbaik anda disini dan tunggu untuk kami publish dan siap dibaca semua orang.

Silahkan like & bagikan ke media sosial kesayangan anda

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Beritahu saya