Buku/Novel OriginalNyari buku yang oke? Beli aja di OkeBuku

Cerita mini Janji Melepas Kerinduan

Janji Melepas Kerinduan

(Oleh: Mr Eko)

 

Terima kasih untuk sapaanmu pagi ini, kau selalu tahu cara untuk membuatku tersenyum, dan aku sangat menyukai hal itu. Tapi sekali-kali luangkanlah waktu untuk kita bisa bercerita berdampingan. Bukan hanya lewat video atau pesan s­ingkat, karena kesibukan yang sangat padat.

Aku rindu, ketika dulu kita sering jalan bersama. Menikmati pagi yang sejuk ditaman kota. Pada saat itu, kau selalu membawa makanan yang sudah kau siapkan dari rumah, sebagai hadiah spesial untukku disetiap pertemuan untuk melepas rasa rindu. Katamu, itu kau lakukan sebagai latihan untuk masa depan kita bersama. Membiasakan diriku makan dari masakanmu yang kau buat dengan penuh cinta. Dan kau bilang juga, untuk minumannya kita beli saja, dengan dalih bahwa ada hal yang harus diperjuangkan bersama untuk melengkapi kehidupan.

Sedangkan aku, selalu membawa karpet kesayangan kita, yang spesial kita pesan dari pengrajin dengan bertuliskan nama panggilan sayang dan juga kutipan pesan spesial kita berdua. Hal itu telah kita setujui, sebagai simbol landasan kasih untuk kita lalui bersama.

Tak hanya itu, aku harus menyiapkan baterai penuh, untuk sejuta foto yang akan kita ciptakan dan beberapa video yang akan kita rekam. Hal itu wajib kita lakukan disetiap gerak yang kita lalui bersama, agar abadi menjadi cerita yang tiada akhirnya untuk dikenang dan diteruskan lagi hingga titik kehidupan memisahkan.

Segala hal itu kita lalui agar tak hanya Tuhan yang menjadi saksi, tetapi para bunga-bunga disekeliling taman, dan juga pakaian yang kita kenakan adalah suatu hal yang bisa mengingatkan, jika suatu saat ada yang salah dengan perjuangan kita. Apalagi tentang foto dan video, itu adalah hal yang sangat istimewa, yang katamu mungkin kita bisa lupa kapan hal itu kita lalui, tapi dengan foto, mampu mengingatkan rasa dan suasana hati ketika saat itu terjadi.

Tak hanya itu, bila engkau mulai bosan karena aktifitas yang kamu lalui setiap harinya. Kau selalu mengajakku duduk santai disore hari. Menikmati senja ditepi pantai, dengan membawa sebuah gitar klasik yang aku petikan. Dan kau yang bernyanyi dengan sangat merdu. Hingga tak jarang kita sampai lupa waktu dan senja pun telah pergi meninggalkan lagu-lagu.

Saat ini melepas rindu seperti itu tak pernah terjadi. Kita sudah bekerja. Waktu luang yang kita punya hanya bisa untuk beristirahat. Memejamkan mata, terlelap, dan kembali bekerja lagi esok hari. Sepenggal kabar pun tak jarang sekali terlayangkan. Sungguh membuat lemas semangat, dengan mengakui bahwa waktu seakan membendung kerinduan yang sudah menggunung. Bagaimana tidak, seharian penuh kita berdua bekerja, ditempat yang berbeda, namun diwaktu yang sama. Ketika aku libur dari tempatku bekerja, kau masih harus berkutat pada pekerjaan yang membuatmu kesulitan untuk mengabariku.

Mungkin kau benar-benar tak punya waktu sejenak, untuk bercerita tentang hari dimana kau kelelahan. Mungkin juga kau belum bisa mengatur waktumu, dengan segala kesibukan karena pekerjaan barumu yang seharian penuh harus kau lalui dengan segala tanggung jawab. Atau mungkin ada suatu hal dalam diriku yang baru kau temukan, tentang perbedaan prinsip yang bertolakbelakang dengan kehidupanmu, hingga membuatmu sering diam tak mengabariku. Segala kemungkinan muncul dibenakku, dengan ribuan tanda tanya, namun aku adalah orang yang mencintaimu, jadi hanya kemungkinan manis yang terbaik yang ingin aku simpan.

Kemarin adalah awal baru dari kisah kita yang sempat tertunda. Kita sempat berbicara, perihal membuat libur bersama. Libur dari segala hal yang membuat kita tak hentinya menumpuk rasa ingin berjumpa. Bulan depan, tepatnya 7 hari setelah ini adalah waktu yang telah kita janjikan, namun hari itu masih sangat lama dari ukuran seseorang yang ingin saling manatap.

Dalam pikirku, apa yang akan ku lakukan dalam 7 hari menunggu. Sementara hari-hari yang kulalui hanya berdiam berteman sepi. Kau pernah bilang padaku disaat jemari tangan kananmu memeluk jemari tangan kiriku, ketika itu kau berkata sambil menatap mataku. “Sayang, jika suatu saat kau sibuk dengan segala aktifitasmu, hingga kau lupa atau tak sempat mengabariku, belajarlah juga untuk menjadikan aku sebagai salah satu dari kesibukanmu tersebut, sungguh aku sangat menyukai hal itu.” Hingga kinipun suara lembutmu masih terngiang ditelingaku. Seakan setiap kali aku terlalu sibuk dengan aktifitasku. Kau membisikan kata-kata itu disampingku, sehingga aku selalu mencari waktu luang, untuk sekedar memberimu bahasa senyuman, yang biasanya kita berikan sewaktu pertama kali berjumpa, setelah menahan gejolak rindu yang mencekam.

Hari ini, hingga 7 hari kedepan, adalah waktu yang sangat panjang. Semoga kita bisa menahan segala rindu untuk tak terucap pada orang yang salah. Semoga pesan-pesan kita waktu itu, masih selalu teringat dimemori dan menjadi penyemangat untuk menciptakan penggalan episode cinta kita.

Aku sangat merindukanmu, bukankah kau bilang, kau juga sangat merindukanku?

 

 

Ilustrasi gambar dari: https://tarisrtari.wordpress.com

Silahkan kirim cerpen terbaik anda di kolom “kirim cerpen“, atau bagikan cerpen ini di media sosial kesayangan anda.

Silahkan like & bagikan ke media sosial kesayangan anda

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Beritahu saya