>> Survey Berhadiah <<Download & Install Disini

Hubungan Jarak Jauh bukanlah Hal Utama Berakhirnya Cerita Cinta – Catatan Pendek

Hubungan Jarak Jauh bukanlah Hal Utama Berakhirnya Cerita Cinta – Catatan Pendek.

“Memang benar bahwa jarak menghalangi kita untuk bertemu, tapi percayalah bahwa sang waktu selalu mendukung kita untuk bersatu.”

 

Banyak orang yang bilang bahwa hubungan jarak jauh adalah hubungan yang paling banyak cobaannya, atau bisa dibilang paling mudah hancurnya. Memang dalam beberapa hal pernyataan seperti itu sangat berlaku, jika keduanya tak memahami apa arti jarak untuk hubungan mereka.

Beberapa orang mengartikan bahwa jarak akan menjadikan cinta semakin syahdu jika bertemu, karena meledaknya rasa rindu yang setiap waktu terkumpul. Tetapi sebagian orang yang lain menganggap bahwa jarak adalah suatu masalah, karena terbatasnya waktu untuk bersama, tak punya kesempatan untuk saling menatap dan tak bisa memberikan kerinduan mereka, sehingga kerinduan itu menjadi liar dan lari ke orang lain sebagai pengobat kesepian.

Jadi sebenarnya yang menjadi masalah utama bukanlah jarak, tetapi orangnya. Kedua insan manusia yang saling mencinta dan terpisah oleh jarak. Perasaan mereka lah yang akan menjadi masalah, atau menjadi anugrah nantinya. Tergantung mereka memilih yang mana, apakah masalah, ataukah anugrah.

Hubungan Jarak Jauh bukanlah Hal Utama Berakhirnya Cerita Cinta - Catatan Pendek

Menurutku sekuat apapun penghalang diluar sana, sebanyak apapun penggangu untuk membelah hubungan cinta, yang paling berperan banyak adalah hati mereka, hati kedua orang yang saling mencintai. Apakah mereka akan saling mendukung, saling menguatkan, ataukah saling menyelamatkan dirinya masing-masing dari rasa sakit hati dan kekecewaan.

Jika aku berkata bahwa sakit hati itu pasti ada dalam setiap hubungan cinta, bukankah itu benar? Lalu kenapa jika kita sudah mencintai seseorang kita masih takut sakit hati, seharusnya yang ditakutkan itu menyakiti, bukan sakit hati. Jika kita takut menyakiti, segala hal yang kita lakukan pasti ingat dia. Ingat apakah hal yang akan kita lakukan ini nantinya akan menyakitnya atau tidak. Jika tidak maka otomatis kita lakukan, jika akan menyakitinya maka pasti kita akan mengurungkan niat kita.

Sekarang jika yang terjadi adalah kita takut disakiti, maka kita akan selalu waspada, mewaspadai pasangan kita. Memata-matai kesehariannya apakah dia dekat orang lain atau tidak. Kita takut diduakan. Kita takut dikecewakan. Kita takut nantinya sakit hati dan patah yang sangat dalam.

Apakah jika keduanya takut sakit hati, hubungan mereka akan baik-baik saja? Iya akan baik-baik saja, tapi hanya dalam waktu dekat, atau hubungan mereka jika masih berlanjut hanya akan ada sebuah hubungan, tanpa rasa cinta.

Lalu bagaimana jika keduanya saling takut menyakiti, apa yang akan terjadi? Mereka berdua akan menjadi dua orang, diri mereka sendiri dan diri pasangannya. Mereka akan bisa lebih peka, merakasan hal yang akan menyakiti pasangannya atau tidak. Tahu apa yang dirasakan pasangannya sehingga keduanya tidak saling tersakiti, tanpa takut disakiti.

Bukankah hal itu yang diimpikan setiap orang yang saling mencintai? Namun begitulah, banyak dari mereka yang tak mengenali cinta mereka sendiri, apakah cinta mereka memberi, ataukah hanya sebatas meminta dibahagiakan.

Dalam cerita lain misalnya seperti ini “Ah percuma aku menjaga diriku agar tidak dekat dengan perempuan/laki-laki lain, padahal dia dekat dengan yang lain”. Nah hal semacam inilah yang menjadikan  awal rusaknya sebuah hubungan. Padahal itu hanya berasal dari perasaan ia sendiri, atau dari temannya dan juga dari orang lain.

Ada lagi yang bilang “Kamu rugi mencintainya, kamu nanti pasti menyesal, dia itu gini, gitu, ini dan itu”. Cukup! Tidak usah dengarkan kata-kata semacam itu, meskipun ia adalah temannya sejak kecil, sahabatnya atau siapapun itu.

Yang terpenting dari semua itu adalah kamu mencintainya. Bukankah cinta itu lebih dari sekedar kepercayaan? Tapi juga saling menjaga dan saling memahami. Seharusnya kamu yang lebih paham daripada mereka. Jika ada yang bilang mereka lebih paham darimu, seharusnya kamu malu. Kenapa mereka yang hanya temannya, sahabatnya atau orang lain bisa bilang seperti itu. Seharusnya kamu mempunya motivasi lebih untuk semakin memahaminya, agar bila ada orang lain bicara seperti itu, kami bisa tegas mengatakan “Tidak, dia tidak seperti itu, aku mengenalnya. Mungkin kamu benar, tapi itu dulu, bukan sekarang. Yang pasti adalah aku sekarang mencintainya, jadi aku akan bersamanya, dan membuat hal tersebut tidak akan pernah ada”. Bagaimana jika seperti itu, pasti hati akan tenang, dan hubungan akan tetap baik-baik saja.

Nah. . . berarti bukan jarak, bukan tempat, bukan pula kesempatan yang akan menghancurkan sebuah hubungan jarak jauh. Jika kalian saling mencintai dan saling memperjuangkan,  jarak akan kalah dengan sang waktu. Karena sang waktu akan pelan-pelan menyatukan kalian. Ia memberikan pembelajaran yang akan membuat kalian semakin saling mengerti satu sama lain, dan tentunya juga akan saling lebih mencintai, lagi dan lagi.

 

PecanduKata/140519.

Seberapa suka anda dengan artikel ini?
Sending
User Review
5 (1 vote)
Silahkan like & bagikan ke media sosial kesayangan anda

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Beritahu saya